Seorang bayi laki-laki lahir di Jombang Jawa Timur tanggal 7 September 1940, dari rahim seorang Ibu bernama Solichah itu oleh ayahnya KH Wahid Hasyim diberi nama Abdurrahman Addakhil, Abdurrahman Sang Penakluk. Bayi lelaki yang tidak berbeda dengan bayi-bayi lain yang lahir ke dunia senantiasa disambut dengan suka cita oleh keluarganya. Bedanya, bayi Abdurrahman Addakhil ini, lahir di tengah keluarga ulama besar KH Hasyim Asy’ari, pendiri Nahdlatul Ulama, sehingga kelahirannya disambut dengan sukacita dan tradisi pesantren Islam yang sangat kental.
Bayi kecil inilah yang kelak dikenal sebagai Abdurrahman Wahid, dan dipanggil oleh orang-orang dekatnya dengan panggilan mesra Gus Dur. Tidak jelas sejak kapan nama belakang Addakhil itu kemudian tergantikan dengan Wahid. Tidak ada yang tahu. Tetapi jiwa Addakhil, tak pernah luntur dari dirinya. Addakhil, konon berarti ”Sang Penakluk”. Sebutan yang sungguh patriotik, dan sekaligus merupakan pesan, harapan dan doa dari orangtuanya, agar bayi lelaki ini kelak tumbuh menjadi seorang lelaki berjiwa penakluk.
Mencermati kesan dari orang-orang dekatnya, para tokoh, pejabat negara, sahabat, bahkan ”musuh”nya yang muncul di berbagai media, semuanya menggambarkan betapa sosok Gus Dur ini memang layak untuk mendapat julukan Sang Penakluk, sebagaimana nama yang disandangnya sejak lahir. Nama Sang Penakluk yang kemudian pelan-pelan dilupakan orang, berganti dengan Wahid, yang konon berarti satu itu pun sesungguhnya bukan sama sekali meniadakan keberadaan Sang Penakluk. Justru dengan sebutan Wahid dibelakang Abdurrahman itu menunjukkan pesan tersirat yang sangat dalam.
Abdurrahman, konon bermakna Abdi Sang Maha Penyayang. Ketika nama ini disambung dengan nama Addakhil, Sang Penakluk, maka dia menjadi Abdi Sang Maha Penyayang yang akan menjadi Sang Penakluk. Bagusnya kemudian nama Addakhil ini perlahan disembunyikan dan diganti dengan Wahid. Sehingga Addakhil, Sang Penakluk itu menjadi hidden name, masuk ke dalam relung jiwa yang paling dalam, menjadi semangat yang tersembunyi tetapi tidak pernah hilang dari dirinya. Bagusnya pula, hidden name itu kemudian digantikan dengan Wahid, hanya ada satu, seakan-akan menjadi sebuah proses perubahan yang memengaruhi perjalanan hidupnya.
Jiwa pengabdiannya selalu dilandasi dengan semangat kasih sayang, itulah Abdurrahman. Dengan semangat kasih sayang itu dia menjadi Sang Penakluk, itulah Addakhil. Karena dia menaklukkan bukan dengan kekerasan, melainkan dengan kasih sayang, maka tidak ada yang merasa kalah. Bahkan kadang-kadang terkesan Sang Penakluk lah yang kalah. Dilengserkan dari kedudukannya sebagai Presiden, lalu dilengserkan lagi dari jabatannya sebagai Ketua Umum Dewan Syuro PKB, tetap menempatkan dirinya sebagai Sang Penakluk yang tersembunyi. Buktinya dia tidak melakukan perlawanan menggunakan kekuatan pendukungnya yang sangat besar. Dia tidak melakukan itu, karena semangat dan jiwa kasih sayang yang diemban dari nama Abdurrahman.
Dia tetap Addakhil, Sang Penakluk, walaupun tersembunyi. Semangat menaklukkan tidak pernah surut, walaupun dia sembunyikan secara hati-hati agar tidak menyebabkan pihak-pihak yang tidak menyukainya akan terluka. Tetapi dia tetap Wahid, hanya ada satu penakluk, yaitu Abdurrahman.
Abdurrahman Addakhil Wahid, sungguh nama yang indah dan mengandung harapan, doa dan semangat. Dia lahir dari kalangan pesantren yang kental, sehingga yang dijadikan anutan adalah contoh dan pesan Nabi Muhammad Saw, ”berilah nama yang baik kepada anakmu, karena nama itu adalah doa untuk si anak”. Nama yang melekat pada bayi suci yang lahir tanggal 7 September 1940 di Jombang Jawa Timur itu ternyata benar-benar menjadi doa, harapan dan semangat hidupnya, keluarganya, para pengikutnya dan bahkan seluruh rakyat Indonesia.
Selamat jalan, Gus. Maaf, tak ada airmata untukmu, karena kamu pasti sudah mendapatkan kebahagiaan di sisi Tuhanmu.*****
http://sosbud.kompasiana.com/2009/12/31/gus-dur-sang-penakluk/
Senin, 11 Januari 2010
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar