KH.ABDUR RAHMAN WAHID

KH ABDUR RAHMAN WAHID YANG BIASA DISAPA GUSDUR ADALAH TOKOH NASIONAL DENGAN BERBAGAI PREDIKAT - SEBAGAI ULAMA BESAR, BAPAK KERUKUNAN UMAT BERAGAMA - BAPAK LSM - JURNALIS DAN BERBAGAI SEBUTAN LAINNYA

Senin, 11 Januari 2010

Dr. Rumadi dan Abd Moqsith Ghazali: Gus Dur Adalah Jendela, Garansi, Lokomotif

Dr. Rumadi dan Abd Moqsith Ghazali: Gus Dur Adalah Jendela, Garansi, Lokomotif Buku Gus Dur terbaru, Islamku, Islam Anda, Islam Kita, yang pekan lalu diluncurkan 1/8), merekam konsistensi garis besar pemikiran dan sikap Gus Dur dalam soal-soal eagamaan dan kebangsaan. Gus Dur tetap kokoh di jalur keislaman, kebangsaan, dan kemanusiaan. Itulah setidaknya kesaksian dua intelektual muda NU, Dr. Rumadi dan Abd. Moqsith Ghazali kepada Jaringan Islam Liberal (JIL), Kamis (21/9) lalu.
Dr. Rumadi dan Abd Moqsith Ghazali:
Gus Dur Adalah Jendela, Garansi, Lokomotif
Buku Gus Dur terbaru, Islamku, Islam Anda, Islam Kita, yang pekan lalu diluncurkan (21/8), merekam konsistensi garis besar pemikiran dan sikap Gus Dur dalam soal-soal keagamaan dan kebangsaan. Gus Dur tetap kokoh di jalur keislaman, kebangsaan, dan kemanusiaan. Itulah setidaknya kesaksian dua intelektual muda NU, Dr. Rumadi dan Abd. Moqsith Ghazali kepada Jaringan Islam Liberal (JIL), Kamis (21/9) lalu.
JIL: Mas Rumadi, buku yang memuat kolom-kolom Gus Dur setelah lengser dari kursi kepresidenansudah terbit kemarin. Sebagai salah seorang editornya, apa yang dimaksud Islam Ku, Islam Anda, Islam Kita, yang dijadikan judulnya itu?
Rumadi: Oh, itu diambil dari salah satu judul tulisan Gus Dur yang ada di dalam buku itu. Judul tulisan itu sebenarnya menggambarkan pusaran utama keseluruhan pemikiran Gus Dur yang ada di dalam buku itu. Kalau dilihat mendetail, memang banyak sekali hal-hal yang dibicarakan Gus Dur, sejak soal Islam dan ketatanegaraan, sampai responnya terhadap masalah-masalah kontemporer seperti kasus Inul dan problem ekonomi global.
Esai dengan judul Islam Ku, Islam Anda, Islam Kita, yang menjadi judul buku itu sebenarnya tidak panjang. Tapi dari esai itu kita menyadari bahwa Islam memang beragam. Ungkapan pribadi seseorang dalam berislam mungkin berbeda atau juga bertentangan dengan apa yang saya alami. Dari situlah kita dapat melihat adanya Islam yang aku pahami secara pribadi, dan Islam yang Anda pahami menurut Anda sendiri. Namun meski beragam, kita tetap Islam, dan disitulah mulai dikatakan soal Islam kita.
Jadi judul buku ini menggambarkan Islam yang warna-warni; meski Islamnya satu tapi masing-masing orang punya pemahaman berbeda-beda tentang Islam.
JIL: Mas Moqsith, dari telaah Anda atas tulisan-tulisan Gus Dur, apakah keragaman Islam itu hanya ditunjukkan dari sudut pandang sosiologis-antropologis saja, atau juga dalam soal doktrin-teologisnya?
Moqsith: Saya kira, tidak hanya keragaman dari sisi sosiologis-antropologis yang sejak lama didengungkan Gus Dur. Kita tidak bisa mengelak bahwa di dalam soal doktrin, dalam tafsir keagamaan yang paling asasi pun kita tak mungkin bisa menunggal. Karena itu, ada Islamku, yakni Islam sebagai hasil penafsiran yang bersifat personal-individual dari seseorang; ada Islam Anda yang berdasarkan penafsiran Anda dan juga Islam kita, yang menjadi benang merah dari Islamku dan Islam Anda.
Menurut Gus Dur, yang dinamakan Islam kita itu adalah prinsip-prinsip dasar kemanusiaan yang universal. Gus Dur sering mengutip al-Ghazali soal 5 prinsip dasar ajaran Islam. Pertama adalah soal kebebasan beragama. Gus Dur adalah orang kampung yang saya kira sangat konsisten melakukan pembelaan terhadap kelompok-kelompok minoritas. Sebab minoritas agama, ras, dan sebagainya itu, merupakan bagian dari perwujudan tafsir atau pemahaman orang terhadap Islam. Menurut Gus Dur, mereka itu tidak bisa dihancurkan.
Di samping kebebasan beragama, kebebasan berfikir dan aspek-aspek kebebasan lain juga terus-menerus didengungkan Gus Dur. Bagi saya, Gus Dur telah memberi injeksi moral agama ke dalam isu-isu yang dianggap bersifat profan sekalipun. Dia bicara HAM, demokrasi, pluralisme, dan sebagainya.
JIL: Apa soal baru yang buku ini, Mas Rumadi ?
Rumadi: Bagi saya, yang perlu dari buku ini bukan soal baru atau tidaknya, tapi justru kesaksian akan konsistensi Gus Dur dalam pikiran-pikiran yang sejak lama ia usung. Saya belum pernah melihat pemikir Indonesia yang begitu konsisten membela prinsip-prinsip yang ia pegang teguh sebagaimana Gus Dur. Buah pikirannya bukan hanya diwacanakan dalam bentuk tulisan lalu diseminarkan dlsb., tapi juga diwujudkannya dengan aksi. Lihatnya bagaimana kukuhnya Gus Dur berpegang pada prinsip anti-diskriminasi. Bukan hanya menulis, dia benar-benar memperjuangkan prinsip itu dalam aksi nyata.
Juga konsistensinya dalam pembelaan terhadap pluralitas. Dia tetap melakukan itu meski dianggap kerja yang tidak populer dan dipandang kontroversial. Tapi dia tetap lakukan pembelaan. Dalam soal pembelaan atas pluralitas, saya tidak pernah melihat orang sekonsisten Gus Dur. Aktivismenya juga merupakan cerminan dari apa yang ia pikirkan.
JIL: Mas Moqsith, Anda melihat konsistensi dan kesinambungan dalam gagasan-gagasan keislaman Gus Dur, atau justru melihat titik-titik kisar perubahan paradigma berpikir?
Moqsith: Saya pertama-tama melihat Gus Dur sebagai sosok santri, dan santri itu dididik berpikir secara plural oleh tradisi fikih. Sebab, tak mungkin ada pandangan yang tunggal di dalam fikih. Karena itu, orang yang ahli fikih seperti Gus Dur, tak mungkin menganut satu konsep kebenaran absolut. Itulah saya kira yang pertama kali mendidik Gus Dur untuk tidak memutlakkan pandangannya sendiri. Di samping fikih, dia juga banyak belajar ilmu-ilmu lain seperti sosiologi, antropologi, dan filsafat. Dia juga pembaca sastra yang baik. Karena itu, medan perhatian Gus Dur terhadap ilmu pengetahuan amatlah luas.
Nah, di sinilah ia berbeda dengan tokoh Indonesia lainnya seperti Prof. Syafi’i Ma’arif atau Buya Syafii. Buya bukanlah pembaca buku dengan dimensi yang sangat luas. Buya terutama adalah seorang sejarawan dan mungkin juga pembaca buku-buku keislaman yang cukup luas. Tapi bacaan Gus Dur memang luar biasa, bukan hanya fikih, tapi juga fasih bicara sastra. Ketika masih SMP dan SMA dulu, saya juga sering melihat Gus Dur sebagai pengamat sepakbola. Ini menunjukkan bahwa perhatian Gus Dur terhadap banyak dimensi kehidupan sangat besar sekali.
JIL: Selain soal minat bacaan, apa perbedaan lainnya dengan sosok Buya Syafii yang beberapa bulan lalu juga meluncurkan otobiografinya yang memikat?
Moqsith: Mungkin yang juga berbeda adalah titik berangkatnya. Gus Dur bukanlah seorang ploretar, tapi datang dari kalangan aristokrat. Kakek dan bapaknya ibarat raja di dalam tradisi NU. Tapi anehnya, gagasan-gagasan Gus Dur itu potensial menghancurkan dirinya sendiri. Dari politik berwacana, itu sebenarnya merugikan. Tapi Gus Dur tetap melakukan itu. Gagasan-gagasannya seakan-akan ingin menghancurkan kelasnya sendiri. Dia kan seorang yang punya otoritas tinggi, tapi tiap hari ia seakan menghancurkan otoritasnya sendiri.
Itu dapat diamati dari pandangan-pandangan keagamaannya yang di kalangan para kyai cukup kontroversial. Kerja seperti itu, kalau tak hati-hati, tentu akan melenyapkan kharisma dan lain sebagainya. Tapi Gus Dur tidak peduli, ia tetap membuat perbedaan. Ia tetap konsisten menghadirkan sudut pandang yang berbeda dalam melihat banyak persoalan. Pembelaan Gus Dur terhadap kelompok minoritas seperti Ahmadiah, aliran kepercayaan, dan lain-lain, sudah konsisten ia lakukan sejak dulu dan sampai sekarang.
JIL: Mas Rumadi bisa menunjukkan konsistensi gagasan keislaman Gus Dur lebih rinci lagi?
Rumadi: Dilihat dari sejarah perkembangan pemikiran Gus Dur, masa-masa awalnya memang tak lempang-lempang amat. Dia pernah mendukung gagasan-gagasan Ihkwanul Muslimin yang dianggapnya sebagai salah satu ptototipe Islam yang benar. Tapi setelah belajar tentang nasionalisme Arab dan sosialisme di Irak, dia mulai berubah pikiran. Selanjutnya, perubahan-perubahan itu terus terjadi, terkait dengan pengalaman hidup Gus Dur sendiri.
Setelah melihat kenyataan Islam Indonesia, dia menemukan ide-ide baru yang pelan-pelan mulai menggeser cara pandangnya yang lama. Sekarang, yang dia pegang adalah prinsip-prinsip dasar Islam yang disebutkan tadi. Tapi dia terlihat konsisten dalam prinsip dasar pemikirannya. Dalam aksi politik, ia memang sering agak sirkus dan zig-zag. Tapi prinsip-prinsip dasar pemikirannya terlalu jelas untuk dilihat. Tak ada sesuatu yang samara-samar atau kabur. Prinsip-prinsip dasar pemikiran Gus Dur menurut saya terlalu jelas.
JIL: Anda bisa merinci gagasan-gagasan keislaman apa yang paling penting dari Gus Dur?
Moqsith: Yang sangat popular tentu soal pribumisasi Islam. Ini adalah cara Gus Dur khususnya dan NU umumnya untuk menolak Arabisasi. Tapi ini juga bukan pikiran yang baru datang dari Gus Dur, karena sejak dulu para kyai pesantren sudah punya kecenderungan untuk menghadirkan jenis keislaman yang khas Indonesia, tanpa banyak dicampur unsur Arabisme. Jadi pribumisasi Islam itu hanya stempelnya saja. Gus Dur berjasa menteorikannya. Gus Dur telah memberi nama terhadap jenis perjuangan yang dilakukan oleh para ulama Indonesia sejak Walisongo sampai sekarang.
Gagasan Gus Dur yang sampai sekarang masih konsisten juga adalah aspek penolakannya terhadap negara Islam. Dia mungkin terpengaruh oleh buah pikiran Ali Abdul Raziq (ulama Mesir) yang mengatakan tidak adanya konsep negara Islam. Sampai sekarang, dengan pilihan itu, dia dicaci-maki dan berhadapan dengan banyak orang.
Salah satu pemikiran Gus Dur yang sudah cukup jelas juga adalah visi kebangsaannya. Visi kebangsaan itu berulang kali dia tuangkan dalam ungkapan bahwa tidak ada ajaran Islam yang mengharuskan untuk menegakkan negara Islam. Itu berulangkali dia katakan. Dia juga sering mengatakan, ”Meski saya Islam dan mayoritas orang Indonesia itu beragama Islam, tidak terbesit sedikit pun di pikiran saya untuk mendominasi Indonesia ini atas nama Islam.” Gus Dur juga seringkali mengatakan bahwa yang ia perjuangkan adalah Islam berwatak kultural, bukan Islam yang selalu ingin tampil di kelembagaan politik. Prinsip itu diwujudkannya dengan cara membentuk partai politik yang bervisi kebangsaan.
Saya kira itu pikiran-pikiran dasar Gus Dur. Ia memang punya perhatian besar terhadap isu-isu politik, persoalan pluralisme dan sebagainya. Tapi yang tidak dilakukan Gus Dur adalah menulis secara serius pandangannya tentang perempuan. Saya kira, pada aspek itu ada kemiripan antara Gus Dur dengan almarhum Cak Nur.
JIL: Bisa lebih detil tentang sejarah penyikapan NU atas perjuangan politik yang menginginkan negara Islam di Indonesia?
Rumadi: Pada masa awalnya, tahun 1945--1955, NU berada dalam blok atau kelompok yang memperjuangkan tegaknya Islam sebagai dasar negara. Tapi di situ ada polemik antara Gus Dur dan adiknya, Gus Solah (Solahuddin Wahid). Gus Dur bilang, NU tidak mendukung Islam sebagai dasar negara, sementara Gus Solah bilang sebaliknya. Saya cenderung mengatakan bahwa NU pada mulanya berada dalam blok yang menginginkan Islam sebagai dasar negara.
Tapi sejarah tidak berjalan linier. Di tengah arus, ada masa ketika NU harus mengambil sikap tentang hidup bernegara. Itu secara jelas diproklamasikan di tahun 1984, dipelopoli langsung oleh Gus Dur. Di situ dikatakan bahwa Indonesia sebagai negara kesatuan dengan Pancasila sebagai dasarnya, merupakan bentuk yang final bagi NU. Apakah pernyataan final itu cerminan keinginan jamaah NU, atau cerminan situasi ketika NU tidak bisa berkata lain, tentu akan diuji sendiri oleh sejarah.
Buktinya, dalam perkembangan belakang, ada saja beberapa kompenen NU yang tidak tahan akan godaan negara Islam. Itu bisa dibuktikan lewat kelompok-kelompok di dalam NU yang membuat partai dengan Islam sebagai asasnya. Bahkan dalam Muktamar NU tahun 1999, ada juga yang mengusulkan agar NU kembali ke asas Islam, meski suara itu akhirnya bisa dieliminasi. Saya kira, ini merupakan salah satu bentuk pergumulan pemikiran NU. Arus besarnya memang masih dikusai kalangan yang menginginkan NKRI. Tapi riak-riak yang menghendaki dan memimpikan adanya negara Islam tampaknya tak juga pernah mati di lingkungan NU.
JIL: Gus Dur pernah menulis tentang Islam sebagai faktor komplementer atau pelengkap Indonesia. Apakah gagasan seperti itu masih dianut mayoritas di NU atau sudah diganti menjadi Islam sebagai kekuatan hegemonik?
Moqsith: Gagasan Islam sebagai faktor komplementer itu saya kira bukan hanya dimiliki Gus Dur, karena kyai-kyai lain juga berpikir tentang hal yang sama. Dan sampai sekarang, saya kira gagasan itu masih cukup kuat. Itu dapat dibuktikan dari pandangan beberapa kyai, termasuk KH Sahal Mahfudz yang menolak formalisasi syariat Islam atau perda bernuansa syariah Islam. Gus Mus atau KH Mustofa Bisri juga seperti itu. Artinya mereka ingin menjadikan fikih sebagai dunia di dalam basis kulturalnya saja dan tidak masuk ke dalam institusi negara. Itu pandangan yang hampir merata di lingkungan kiay-kiay NU. Kyai Sahal telah menolak fikih dijadikan hukum positif negara, tetapi menerimanya sebagai etika sosial. Karena itu, keterlibatan Islam di dalam negara yang majemuk ini tidak bisa dalam format ingin mendominasi dan menjadi satu-satunya faktor penentu. Ia hanya menjadi unsur komplementer saja…
JIL: Sebagai generasi muda NU, seberapa jauh pikiran-pikiran Gus Dur mempengaruhi Anda dan teman-teman?
Moqsith: Bagi saya, Gus Dur itu adalah jendela bagi warga NU. Melalui jendela itulah warga NU bisa mengintip, bisa melihat luasnya dunia luar. Keberhasilan Gus Dur terletak dalam cara dia menginspirasi anak-anak muda di pesantren. Lewat Gus Dur, anak-anak muda mulai belajar menulis dan berpikir secara kritis. Di tahun 1991, ada rumusan pentingnya melakukan kontekstualisasi pemahaman kitab kuning. Itu tidak terlepas dari upaya-upaya yang dilakukan generasi-generasi tua NU seperti Gus Dur, Masdar Farid Mas’udi, dan lain-lain. Saya kira di situ terletak peran yang sangat besar dari Gus Dur.
Yang kedua, dari segi gagasan, Gus Dur itu memang mumpuni, terlepas dia adalah seorang Gus, anak dari bapaknya dan cucu dari kakeknya yang mendirikan NU. Karena itu, ia memiliki otoritas sangat besar untuk melakukan perubahan-perubahan paradigmatik di lingkungan NU. Apa yang dilakukan Gus Dur akan gampang diamini anak-anak muda. Resistensi atas gagasan dan gerakannya pun tidak akan terlalu kuat ketimbang kalau dikatakan dan dilakukan orang lain. Jadi, keluar Gur Dur menjadi jendela, di dalam ia menjadi garansi bagai anak-anak muda. Kalau anak-anak muda dikritik para kyai, Gus Dur akan memberi penjelasan-penjelasan dengan menggunakan bahasa kyai, dlsb.
JIL: Anda optimistis atau pesimistis akan perkembangan intelektual anak-anak muda NU setelah Gus Dur?
Moqsith: Saya kira ke depan kita tak bisa lagi bersandar pada individu atau tokoh. Itu harus diakhiri. Apa yang dilakukan anak muda NU sekarang adalah institusionalisasi gagasan-gagasan Gus Dur. Itu sudah berkembang melalui lembaga-lembaga pendidikan alternatif yang dikembangkan sejumlah NGO/LSM di beberapa daerah. Kalau terus mengandalkan tokoh, sejumlah tokoh memiliki keterbatasan. Ketika Gus Dur menjadi politisi dalam pengertian yang sesungguhnya, susah mengikuti alur permainannya yang bagai sirkus.
Untungnya anak-anak muda NU mampu menentukan barometer: yang harus kita ikuti dari Gus Dur adalah Gus Dur yang makro, bukan Gus Dur yang mikro, seperti istilah almarhum Cak Nur. Gus Dur yang kulli bukan Gus Dur yang juz’i. Itu saya kira patokan yang baik bagi kita dalam melakukan gerakan perubahan sosial di tengah-tengah masyarakat. Saya kira, gagasan-gagasan Gus Dur tetap relevan karena ia lebih banyak bukan gagasan yang tentatif. Pemikiran Gus Dur tentang pribumisasi Islam, saat ini makin relevan seiring makin maraknya orang berpikir tentang negara Islam dan mengintensifkan Arabisasi terhadap Islam.
JIL: Bagi Anda seperti apa kedudukan Gus Dur bagi generasi muda NU?
Gus Dur bukan hanya jendela tapi juga lokomotif. Di belakang Gus Dur terdapat banyak anak muda NU yang disebut progresif atau apapun namanya. Semaunaya tidak ada yang terlepas dari inspirasi Gus Dur. Tapi memang ke depan kita tidak bisa bersandar pada Gus Dur atau figur seorang tokoh. Tapi gagasan-gagasannya memang tetap perlu disosialisasikan, diterjemahkan ke dalam tindakan-tindakan yang lebih riil. []
Gus Dur Luncurkan Situs Pribadi
Jakarta, gusdur.net
Untuk menyampaikan berbagai gagasannya termasuk mengenai demokrasi dan humanisme kepada masyarakat luas, mantan Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur) meluncurkan situs pribadi.
Situs dengan nama domain www.gusdur.net itu, diluncurkan bertepatan dengan Hari Kemerdekaan Indonesia, 17 Agustus 2002 di hotel Acacia, Kramat raya, Sabtu, siang.

Menurut Alissa Rahman, putri pertama Gus Dur yang juga penanggung jawab situs tersebut, situs itu sebenarnya telah dibangun sejak Gus Dur masih menjabat Presiden. "Tetapi karena bapak dulu masih sibuk mengikuti perkembangan politik di Tanah Air, situs ini ditunda dulu peluncurannya," kata Alissa."Tujuannya untuk menyampaikan berbagai gagasan, pokok pikiran dan ide-ide bapak (Gus Dur) secara utuh, agar masyarakat mendapat akses langsung", kata Lisa- panggilan akrabnya.

Berbagai komentar Gus Dur selama ini, seringkali dianggap kontroversial, dan membuat banyak kejutan serta memancing berbagai komentar dari berbagai kalangan. Hal ini terjadi karena seringkali gagasan itu muncul melalui kutipan pers secara sepotong-sepotong, sehingga kurang dipahami oleh masyarakat.

Melalui situs ini, Gus Dur secara rutin akan menyampaikan gagasan-gagasan itu secara utuh, agar masyarakat memahami latar belakang maupun konteksnya. Berbagai pokok pikiran Gus Dur itu akan dihadirkan melalui rubrik "Memahami Gus Dur"

Ria Irawan dan Pengamen Jalanan
Tamu-tamu yang akan hadir dalam acara itu acara peluncuran website Gus Dur, dari berbagai kalangan, mulai mantan Menteri masa pemerintahannya, relasi, kalangan pers dan aktivis pro demokrasi.Dalam peresmian situs, juga diadakan obrolan santai dengan tema Gus Dur: Antara Sarung dan Internet. Sebagai pembicara adalah, Gus Dur sendiri, sineas, Garin Nugroho, penulis buku "Hari-hari Indonesia Gus Dur", Budiarto Tanudjaja, penulis "Dibalik Sarung Presiden Gus Dur", Luqman Hakiem, dan Sucipto Wirosardjono.Selain itu peluncuran website ini akan dimeriahkan oleh iringan lagu-lagu para musikus yang berasal dari pengamen jalanan dan anak-anak jalanan. Artis Ria Irawan dengan beberapa rekannya akan tampil membaca puisi.

Isi www.gusdur.net kebanyakan adalah berita seputar aktivitas dan ide-ide Gus Dur. Rubrik lain yang dapat disimak adalah Memahami Gus Dur (berbagai tulisan Gus Dur dari berbagai aspek), Biografi, Anekdot dan Joke (joke-joke yang selama ini sering dilontarkan Gus Dur), Kolom yang berisi artikel-artikel para pakar, Galery foto-foto Gus Dur dan berbagai artikel berbahasa Inggris. Dalam situs itu Gus Dur juga menyisipkan "Tanya Jawab", sebuah rubrik interaktif yang dapat digunakan masyarakat untuk berdialog langsung dengan dirinya.
SBY Dinilai Monopoli Jasad Gus Dur (Bahkan Khofifah Tak Boleh Masuk)

SBY dinilai berlebihan memberi penghormatan akhir pada Gus Dur. Protokoler begitu ketat, mengabaikan tradisi kaum Nahdliyin. Bahkan Khofifah Indar Parawansa, sahabat Gus Dur dan mantan menteri dalam kabinet Gus Dur ini ditolak masuk areal pemakaman. Pendeknya, Gus Dur mendadak jadi milik SBY, mulai dari RSCM, Ciganjur, sampai Jombang.
Menurut Adhie Massardi, yang selama sepuluh tahun terakhir mendamping Gus Dur, penghormatan yang diberikan pemerintah salah kaprah. Protokoler SBY telah membuat banyak santri dan kiai pendukung Gus Dur baik kehilangan kesempatan memberikan penghormatan terakhir dengan cara mereka.
“Pesantren dan kaum Nahdliyin memiliki tata cara sendiri dalam menghormati kiai yang meninggal dunia, termasuk Gus Dur. Protokoler yang berlebihan malah membuat banyak kiai dan santri teralienasi di rumah mereka sendiri. Banyak yang menyesalkan hal ini,” ujar Adhie kepada Rakyat Merdeka Online, (Jumat, 1/1).
Adhie ikut menghadiri pemakaman Gus Dur di Jombang. Tetapi menurutnya, dia dan sejumlah teman dekat Gus Dur semasa hidup, seperti Khofifah Indar Parawansa yang juga mantan menteri Kabinet Persatuan Nasional, dilarang memasuki areal pemakaman. Adhie menambahkan, sebagai mantan presiden Gus Dur memang berhak mendapatkan penghormatan dari negara. Tetapi di sisi lain, seharusnya Presiden SBY juga memahami local wisdom kaum Nahdliyin.
“Mereka ini nampak menguasai, mulai dari RSCM, Ciganjur sampai Jombang. Seakan-akan Gus Dur mendadak jadi milik Presiden SBY,” ujarnya lagi.
Di sisi lain, Adhie juga mengatakan bahwa yang harus dihormati bukan sekadar jasad Gus Dur, melainkan buah pikiran Gus Dur yang intinya adalah pengakuan prinsip pluralisme yang menjadi pondasi nasionalisme Indonesia, juga demokrasi yang dilandasi pada prinsip kesetaraan sesama warga negara.
“Kalau pemerintahan SBY-Boediono ini memang menghormati Gus Dur, mestinya mereka juga mau menciptakan pemerintahan yang bersih,” sambung Adhie.
Kepada masyarakat luas dia berpesan agar tidak meniru sikap pemerintah yang hanya menghormati jasad Gus Dur dan mengabaikan pikiran dan cita-cita Gus Dur. Ujung dari cita-cita Gus Dus, kata Adhie sekali lagi, adalah kesejahteraan rakyat.
Gus Dur yang Universal dan Partikular
Surabaya, wahidinstitute.org
Buku terbaru karya Presiden Republik Indonesia ke-4 KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Islam Kosmopolitan, ramai didiskusikan. Kamis (8/11/2007) sore lalu misalnya, Komunitas Baca Surabaya (Kombas) bekerjasama dengan the WAHID Institute mendiskusikannya di ruang rektorat Institute Agama Islam Negeri (IAIN) Sunan Ampel Surabaya Jawa Timur.
Buku terbitan the WAHID Institute tahun 2007 ini, didiskusikan oleh tiga intelektual muda NU pengagum sekaligus ‘titisan’ Gus Dur: Direktur Eksekutif the WAHID Institute Ahmad Suaedy, Dosen UIN Syarif Hidayatullah Jakarta DR. Rumadi dan Dosen Universitas Paramadina DR. Abdul Moqsith Ghazali. Dosen IAIN Sunan Ampel DR. Masdar Hilmy didaulat sebagai moderator. Sedang ratusan mahasiswa S1 dan S2 pascasarjana IAIN Sunan Ampel hadir sebagai peserta.
Dalam uraiannya, Ahmad Suaedy lebih banyak menyorot proses menjelang penerbitan buku yang dieditnya ini. Buku ini, katanya, berisi kumpulan tulisan Gus Dur antara tahun 1970 hingga 1980-an. “Pikiran Gus Dur begitu kaya dan tidak hanya bersumber pada Islam formal, tapi dari Jawa dan Barat. Jarang ada orang yang demikian,” ujarnya.
Buku ini, jelasnya, bermula dari pidato atau diskusi mantan Presiden itu yang ditranskrip, ketika di Institute Tehnologi Bandung (ITB). Masjid Salman dan ITB, kala itu sedang berada pada puncak ketenaran, karena menjadi kiblat pembaharuan pemikiran Islam. “Pidato Gus Dur tentang kosmopolitanisme Islam berawal dari situ,” terangnya.
Secara jujur, Suaedy mengagumi referensi yang digunakan Gus Dur dalam buku ini. “Ini luar biasa. Mulai dari novel abad pertengahan, referensi Barat, sampai referensi terbesar abad keemasan Islam,” jelasnya.
Lantas, apa sesungguhnya yang dimaksud kosmopolitanisme Islam oleh Gus Dur?
Suaedy yang memang dekat dengan Gus Dur, baik secara pribadi maupun intelektual, mencoba mengurai jawabnya. Dikatakannya, kosmopolitanisme Islam dalam konsepsi Gus Dur adalah situasi ketika pemikiran Islam begitu terbuka, baik untuk mengkritik maupun menerima pemikiran dari Barat dan yang lain.
“Bagi Gus Dur, puncak kosmopolitanisme Islam adalah ketika semua orang bebas mengekspresikan pikiran-pikirannya. Se-kontroversial apapun, pikiran harus diberi ruang berekspresi. Dan orang lain hanya boleh menanggapi dengan cara yang sama. Tidak boleh orang berfikir lantas ditangkap,” jelasnya.
“Dan pada saat yang sama, juga harus ada penghormatan terhadap kemanusiaan,” tambahnya.
Melihat gagasan-gagasan progresif Gus Dur yang belum sepenuhnya terejawantahkan dalam kenyataan, Suaedy berharap, muncul generasi-generasi baru yang akan meneruskan gagasan-gagasan itu. “Makanya perlu diciptakan Gus Dur-Gus Dur lokal,” katanya.
Rumadi, dalam uraiannya, menyorot cucu pendiri NU KH. M. Hasyim Asyari ini dari sisi keotentikannya sebagai seorang muslim. “Sejauh apapun melangkah, Gus Dur tetap dipandang sebagai muslim yang otentik. Tidak ada orang yang meragukan keislamannya,” katanya.
Karenanya, penulis buku Renungan Santri (Erlangga: 2007) ini setuju pada John L. Esposito yang menggelari Gus Dur sebagai ‘modern thinker but not moslem modernist’ (pemikir modern, tapi bukan muslim modernis). “Itu karena, antara lain, apapun yang dikatakan Gus Dur tidak pernah lepas dari akar tradisinya. Dalam memaknai kehidupan, umpamanya, ia selalu menggunakan basis tradisi yang dimilikinya,” terangnya.
Basis tradisi itu, ujar Rumadi, membuat Gus Dur tidak silau pada kemodernan, meskipun ia banyak menyerap berbagai macam pemikiran sebagaimana watak kosmopolitanisme Islam yang ingin ditunjukkannya. “Gus Dur selalu mendialogkan antara yang diserap dari dunia luar dengan tradisi yang dimiliki,” ujarnya.
Misalnya, karena banyak menelaah pikiran-pikiran modern, doktrin Aswaja (ahlus sunnah wal jamaah) di lingkungan Nahdlatul Ulama (NU) yang tradisional, itu di tangan Gus Dur menjadi sangat progresif. “Di tangan Gus Dur, Aswaja menjadi sangat dinamis dan menjadi alat untuk berdialog dengan realitas. Itulah cara Gus Dur keluar dari kesuntukan kehidupan,” urainya.
Dikatakan Rumadi, ‘daya cengkeram’ pemikiran Gus Dur yang berbasis tradisi itu begitu kuat bagi warga nahdliyyin. Karenanya, jika ada warga nahdliyyin yang berpikiran progresif, maka ia tidak bisa terlepas dari ‘cengkeraman’ Gus Dur. “Siapapun yang dianggap berani berfikir maju, pada saat yang sama ia mempunyai keterkaitan atau setidaknya memanfaatkan ruang yang dibuka Gus Dur,” ujarnya.
Namun demikian, Rumadi mengingatkan, saat ini adalah masa yang berat untuk mengembangkan pemikiran keagamaan progresif. “Kita perlu energi lebih besar ketimbang pada masa Gus Dur tahun 80-an. Apalagi kita nggak punya apa-apa. Orang kampung dan bukan anak kiai. Kalau sudah dicap sesat, kita akan masuk keranjang sampah,” jelas Rumadi yang menilai buku Islam Kosmopolitan sebagai ‘relatif tidak terkontaminasi oleh politik praktis’ dan ‘pemikiran keislamannya jernih’ ini.
Dua Wajah Gus Dur
Abdul Moqsith Ghazali, yang mengaku ‘terhipnotis sihir’ Gus Dur ketika masih di pesantren menyatakan, Gus Dur harus dikategorikan menjadi dua; Gus Dur yang partikular atau juz’i dan Gus Dur yang universal atau kulli.
“Kalau menggunakan bahasa orang pesantren, Gus Dur yanqasimu ila qismain; Gus Dur juz’iyyun wa Gus Dur kulliyyun,” ujarnya disambut tawa.
Gus Dur sebagai sesuatu yang partikular atau juz’i, kata Moqsith, betul-betul harus diperhatikan karena sifatnya yang mudah sekali berubah. “Sebagai praktisi politik misalnya, Gus Dur dituntut bergerak zig-zag. Karenanya, seringkali langkah Gus Dur sulit diikuti,” jelasnya.
Langkah partikular Gus Dur yang mudah berubah dan zig-zag itu, tamsil Moqsith, laksana definisi i’rab dalam kitab nahwu Jurumiyyah, yaitu al-i’rab huwa taghyir ahwal awakhir al-kalim li ikhtilaf al-‘awamil al-dakhilah ‘alaiha (i’rab adalah perubahan akhir kalimat, karena perbedaan faktor yang masuk pada kalimat itu).
“Gus Dur yang partikular atau juz’i, itu hanya pinggiran-pingiran atau ahwal awakhir al-kalim-nya saja yang berubah. Tapi Gus Dur yang universal atau kulli tidak pernah berubah,” jelasnya.
“Gus Dur yang kulli, misalnya, tidak akan pernah menawar menyangkut advokasinya pada isu-isu pluralisme, dukungan atau perhatiannya pada kelompok minoritas. Gus Dur yang kulli juga tidak akan pernah menimbang apakah langkahnya secara politik merugikan atau tidak,” imbuhnya.
Karena itu, harap Moqsith, kita jangan mudah terjebak dengan memperhatikan langkah Gus Dur yang partikular belaka. Yang harus diperhatikan, katanya, adalah yang ada di dalamnya, bukan yang ahwal awakhir al-kalim. “Jangan sampai Gus Dur yang kulli ini dikalahkan oleh Gus Dur yang juz’i. Itu harapan saya sebagai anak muda. Ini fatwa dari saya,” terangnya.
Dengan penyikapan demikian, aku Moqsith, dirinya tidak pernah gelisah atau gundah menatap sikap dan tindakan Gus Dur yang zig-zag tak bisa terdeteksi. “Itu nggak usah diperhatikan. Itu semata taghyir ahwal awakhir al-kalim li ikhtilaf al-‘awamil al-dakhilah ‘alaiha, karena perbedaan faktor yang masuk saja,” tandasnya.
Moqsith juga menguraikan kelebihan Gus Dur dibanding pembaharu-pembaharu lainnya, yaitu penguasaannya yang kuat pada khazanah Islam klasik. Disamping melakukan kritik terhadap sejumlah tradisi, kata Moqsith, Gus Dur juga tetap mempertahankan tradisi itu sebagai bangunan dasar untuk melakukan pembaharuan-pembaharuan pemikiran Islam.
“Misalnya melalui pendekatan fikih dan ushul fikih-nya, Gus Dur melakukan pembaharuan pemikiran Islam. Ini jarang dipakai oleh Harun Nasution misalnya” ujarnya.
Terma hifdh al-din, satu diantara al-dharuriyyat al-khams (lima prinsip dasar) yang lumrah dikenal dalam fikih klasik, di tangan Gus Dur dimaknai sebagai ‘kekebasan beragama’. “Ini luar biasa. Hifdh al-‘aql yang biasanya dimaknai larangan meminum minuman keras, di tangan Gus Dur menjadi bermakna kebebasan berfikir dan berekpresi,” terangnya.
Karena alat ucapnya adalah tradisi, simpul Moqsith, maka pikiran-pikiran Gus Dur mudah mengalami penerjemahan pada tingkat praksis di lapangan. “Ini berbeda dengan pikiran Harun Nasution yang tidak menggunakan alat ucap tradisi. Resistensinya menjadi sangat tinggi,” katanya.
Kendati mengagumi Gus Dur, Moqsith tak sungkan dan tak canggung melancarkan kritik. Misalnya tentang isu-isu kesetaraan laki-laki perempuan yang sepi dari sorotan Gus Dur. “Padahal isu ini pada tahun 80-an sudah cukup seksi dibicarakan di lingkungan pembaharu Islam. Namun Gus Dur, termasuk Cak Nur, mengambil posisi untuk tidak membicarakannya sebagai bagian dari agenda pembaharuannya. Mungkin mereka sengaja,” katanya.
“Dugaan saya, kalau mengambil isu ini mereka akan menghadapi tembok besar para kiai. Tradisi selir dan poligami yang bersemayam di dalam masyarakat Jawa, itu agak sulit dihancurkan oleh orang-orang dalam pesantren sendiri. Tapi pelan-pelan, anak mudanya sekarang mulai melakukan pembaharuan pemikiran Islam dari perspektif perempuan. Ini kelanjutan para mentornya saja,” imbuhnya.
Gus Dur, ujar Moqsith, juga jarang sekali berbicara isu-isu yang detail, semisal hukum menonton VCD porno dan sebagainya. “Padahal itu menarik. Fikih klasik itu sangat kaya. Kita bisa menemukan jawaban apa saja. Tidak ada satu pandangan yang tunggal di dalamnya,” pungkasnya.[nuha]
Gus Dur, Manusia Diatas Manusia
Masih ingat di memory kita, bagaimana seorang Gus Dur menyikapi setiap peristiwa yang dialami anak negeri ini, mulai isu tukang pijit hingga kasus ngebornya Inul Daratista, mulai yang ringan hingga masalah pelik, semua diselesaikan dengan enteng, dengan gaya khasnya "gitu saja ko' repot !"Gus Dur adalah sosok Gus yang melebihi Gus itu sendiri, analisa masalah yang sering dilontarkan bukannya sengaja dibuat kontroversi agar menjadi sebuah isu tenar dan populis, melainkan benar-benar pemahaman kehidupan yang hakiki, beliau sudah mempunyai pemahaman yang tidak dipahami oleh kebanyakan manusia.
Saya tidak bermaksud untuk mengkultuskan sosok individu dari seorang Gus Dur, beliau tetap sama dengan kita, manusia biasa yang suka dengan makanan, humor, politik dan semua pernak-pernik peri kemanusiaan. Yang membedakan adalah ilham beliau tentang kehidupan ini, baik dunia maupun akhirat.Gus Dur telah menyederhanakan teori kehidupan, mempemudah jalan kehidupan, menjadi sosok panutan ummat. Disaat para Ustadz dan Kyai sibuk melakukan Poligami, beliau cukuplah satu. Disaat semua orang mengutuk Israil, Gus Dur malah berkunjung ke negerinya kala itu, disaat semua negara menghujat Israil karena melakukan penyerangan ke Gaza, lagi-lagi Gus Dur menjelentrehkan duduk permasalahannya, Beliau adalah Kyai Presiden sekaligus Presiden Kyai yang pernah dimiliki oleh negeri ini.

Sehingga bagi orang-orang yang telah mengenal Gus Dur dan bisa memahaminya akan lebih mengerti makna kehidupan ini dengan lebih bijak dan santun, mengambil sisi kehidupan sesuai porsinya. Sedang bagi mereka yang masih hitam putih, sangat sulit untuk menerima jalan pikiran Gus Dur, bahkan cenderung bingung. Itulah Kyai Haji Abdurrahman Wahid alias Gus Dur, manusia diatas manusia.

Gus Dur-Kitab suci yang paling porno di dunia adalah Al Qur’an
Masuk Kategori: HOT NEWS
Masya ALLOH…Gus Dur..istighfar sampeyan…
Eling…
Nyebut…
Selagi ALLOH SWT masih memberikan kesempatan kepada sampeyan untuk hidup…selagi nafas belum di ujung tenggorokan…selagi…selagi…dan masih 1000 selagi masih ada kesempatan dari ALLOH, Gus..
Istighfar Gus…sebelum semuanya terlambat… :’-(
Ya ALLOH … Yaa Rabbi… :’-(
*menitikkan air mata utk statement Gus Dur ini…*
JIL: Gus, ada yang bilang kalau kelompok-kelompok penentang RUU APP ini bukan kelompok Islam, karena katanya kelompok ini memiliki kitab suci yang porno?
Sebaliknya menurut saya. Kitab suci yang paling porno di dunia adalah Alqur’an, ha-ha-ha.. (tertawa terkekeh-kekeh).
JIL: Maksudnya?
Loh, jelas kelihatan sekali. Di Alqur’an itu ada ayat tentang menyusui anak dua tahun berturut-turut. Cari dalam Injil kalau ada ayat seperti itu. Namanya menyusui, ya mengeluarkan tetek kan?! Cabul dong ini. Banyaklah contoh lain, ha-ha-ha…

Minggu, 10 Januari 2010

Gus Dur Manusia di atas Manusia

Gus Dur, Manusia Diatas Manusia
Masih ingat di memory kita, bagaimana seorang Gus Dur menyikapi setiap peristiwa yang dialami anak negeri ini, mulai isu tukang pijit hingga kasus ngebornya Inul Daratista, mulai yang ringan hingga masalah pelik, semua diselesaikan dengan enteng, dengan gaya khasnya "gitu saja ko' repot !"Gus Dur adalah sosok Gus yang melebihi Gus itu sendiri, analisa masalah yang sering dilontarkan bukannya sengaja dibuat kontroversi agar menjadi sebuah isu tenar dan populis, melainkan benar-benar pemahaman kehidupan yang hakiki, beliau sudah mempunyai pemahaman yang tidak dipahami oleh kebanyakan manusia.
Saya tidak bermaksud untuk mengkultuskan sosok individu dari seorang Gus Dur, beliau tetap sama dengan kita, manusia biasa yang suka dengan makanan, humor, politik dan semua pernak-pernik peri kemanusiaan. Yang membedakan adalah ilham beliau tentang kehidupan ini, baik dunia maupun akhirat.Gus Dur telah menyederhanakan teori kehidupan, mempemudah jalan kehidupan, menjadi sosok panutan ummat. Disaat para Ustadz dan Kyai sibuk melakukan Poligami, beliau cukuplah satu. Disaat semua orang mengutuk Israil, Gus Dur malah berkunjung ke negerinya kala itu, disaat semua negara menghujat Israil karena melakukan penyerangan ke Gaza, lagi-lagi Gus Dur menjelentrehkan duduk permasalahannya, Beliau adalah Kyai Presiden sekaligus Presiden Kyai yang pernah dimiliki oleh negeri ini.

Sehingga bagi orang-orang yang telah mengenal Gus Dur dan bisa memahaminya akan lebih mengerti makna kehidupan ini dengan lebih bijak dan santun, mengambil sisi kehidupan sesuai porsinya. Sedang bagi mereka yang masih hitam putih, sangat sulit untuk menerima jalan pikiran Gus Dur, bahkan cenderung bingung. Itulah Kyai Haji Abdurrahman Wahid alias Gus Dur, manusia diatas manusia.

Beberapa Komentar Tentang Gusdur

Dr. Rumadi dan Abd Moqsith Ghazali: Gus Dur Adalah Jendela, Garansi, Lokomotif Buku Gus Dur terbaru, Islamku, Islam Anda, Islam Kita, yang pekan lalu diluncurkan 1/8), merekam konsistensi garis besar pemikiran dan sikap Gus Dur dalam soal-soal eagamaan dan kebangsaan. Gus Dur tetap kokoh di jalur keislaman, kebangsaan, dan kemanusiaan. Itulah setidaknya kesaksian dua intelektual muda NU, Dr. Rumadi dan Abd. Moqsith hazali kepada Jaringan Islam Liberal (JIL), Kamis (21/9) lalu.
Dr. Rumadi dan Abd Moqsith Ghazali:
Gus Dur Adalah Jendela, Garansi, Lokomotif
Buku Gus Dur terbaru, Islamku, Islam Anda, Islam Kita, yang pekan lalu diluncurkan (21/8), merekam konsistensi garis besar pemikiran dan sikap Gus Dur dalam soal-soal keagamaan dan kebangsaan. Gus Dur tetap kokoh di jalur keislaman, kebangsaan, dan kemanusiaan. Itulah setidaknya kesaksian dua intelektual muda NU, Dr. Rumadi dan Abd. Moqsith Ghazali kepada Jaringan Islam Liberal (JIL), Kamis (21/9) lalu.
JIL: Mas Rumadi, buku yang memuat kolom-kolom Gus Dur setelah lengser dari kursi kepresidenansudah terbit kemarin. Sebagai salah seorang editornya, apa yang dimaksud Islam Ku, Islam Anda, Islam Kita, yang dijadikan judulnya itu?
Rumadi: Oh, itu diambil dari salah satu judul tulisan Gus Dur yang ada di dalam buku itu. Judul tulisan itu sebenarnya menggambarkan pusaran utama keseluruhan pemikiran Gus Dur yang ada di dalam buku itu. Kalau dilihat mendetail, memang banyak sekali hal-hal yang dibicarakan Gus Dur, sejak soal Islam dan ketatanegaraan, sampai responnya terhadap masalah-masalah kontemporer seperti kasus Inul dan problem ekonomi global.
Esai dengan judul Islam Ku, Islam Anda, Islam Kita, yang menjadi judul buku itu sebenarnya tidak panjang. Tapi dari esai itu kita menyadari bahwa Islam memang beragam. Ungkapan pribadi seseorang dalam berislam mungkin berbeda atau juga bertentangan dengan apa yang saya alami. Dari situlah kita dapat melihat adanya Islam yang aku pahami secara pribadi, dan Islam yang Anda pahami menurut Anda sendiri. Namun meski beragam, kita tetap Islam, dan disitulah mulai dikatakan soal Islam kita.
Jadi judul buku ini menggambarkan Islam yang warna-warni; meski Islamnya satu tapi masing-masing orang punya pemahaman berbeda-beda tentang Islam.
JIL: Mas Moqsith, dari telaah Anda atas tulisan-tulisan Gus Dur, apakah keragaman Islam itu hanya ditunjukkan dari sudut pandang sosiologis-antropologis saja, atau juga dalam soal doktrin-teologisnya?
Moqsith: Saya kira, tidak hanya keragaman dari sisi sosiologis-antropologis yang sejak lama didengungkan Gus Dur. Kita tidak bisa mengelak bahwa di dalam soal doktrin, dalam tafsir keagamaan yang paling asasi pun kita tak mungkin bisa menunggal. Karena itu, ada Islamku, yakni Islam sebagai hasil penafsiran yang bersifat personal-individual dari seseorang; ada Islam Anda yang berdasarkan penafsiran Anda dan juga Islam kita, yang menjadi benang merah dari Islamku dan Islam Anda.
Menurut Gus Dur, yang dinamakan Islam kita itu adalah prinsip-prinsip dasar kemanusiaan yang universal. Gus Dur sering mengutip al-Ghazali soal 5 prinsip dasar ajaran Islam. Pertama adalah soal kebebasan beragama. Gus Dur adalah orang kampung yang saya kira sangat konsisten melakukan pembelaan terhadap kelompok-kelompok minoritas. Sebab minoritas agama, ras, dan sebagainya itu, merupakan bagian dari perwujudan tafsir atau pemahaman orang terhadap Islam. Menurut Gus Dur, mereka itu tidak bisa dihancurkan.
Di samping kebebasan beragama, kebebasan berfikir dan aspek-aspek kebebasan lain juga terus-menerus didengungkan Gus Dur. Bagi saya, Gus Dur telah memberi injeksi moral agama ke dalam isu-isu yang dianggap bersifat profan sekalipun. Dia bicara HAM, demokrasi, pluralisme, dan sebagainya.
JIL: Apa soal baru yang buku ini, Mas Rumadi ?
Rumadi: Bagi saya, yang perlu dari buku ini bukan soal baru atau tidaknya, tapi justru kesaksian akan konsistensi Gus Dur dalam pikiran-pikiran yang sejak lama ia usung. Saya belum pernah melihat pemikir Indonesia yang begitu konsisten membela prinsip-prinsip yang ia pegang teguh sebagaimana Gus Dur. Buah pikirannya bukan hanya diwacanakan dalam bentuk tulisan lalu diseminarkan dlsb., tapi juga diwujudkannya dengan aksi. Lihatnya bagaimana kukuhnya Gus Dur berpegang pada prinsip anti-diskriminasi. Bukan hanya menulis, dia benar-benar memperjuangkan prinsip itu dalam aksi nyata.
Juga konsistensinya dalam pembelaan terhadap pluralitas. Dia tetap melakukan itu meski dianggap kerja yang tidak populer dan dipandang kontroversial. Tapi dia tetap lakukan pembelaan. Dalam soal pembelaan atas pluralitas, saya tidak pernah melihat orang sekonsisten Gus Dur. Aktivismenya juga merupakan cerminan dari apa yang ia pikirkan.
JIL: Mas Moqsith, Anda melihat konsistensi dan kesinambungan dalam gagasan-gagasan keislaman Gus Dur, atau justru melihat titik-titik kisar perubahan paradigma berpikir?
Moqsith: Saya pertama-tama melihat Gus Dur sebagai sosok santri, dan santri itu dididik berpikir secara plural oleh tradisi fikih. Sebab, tak mungkin ada pandangan yang tunggal di dalam fikih. Karena itu, orang yang ahli fikih seperti Gus Dur, tak mungkin menganut satu konsep kebenaran absolut. Itulah saya kira yang pertama kali mendidik Gus Dur untuk tidak memutlakkan pandangannya sendiri. Di samping fikih, dia juga banyak belajar ilmu-ilmu lain seperti sosiologi, antropologi, dan filsafat. Dia juga pembaca sastra yang baik. Karena itu, medan perhatian Gus Dur terhadap ilmu pengetahuan amatlah luas.
Nah, di sinilah ia berbeda dengan tokoh Indonesia lainnya seperti Prof. Syafi’i Ma’arif atau Buya Syafii. Buya bukanlah pembaca buku dengan dimensi yang sangat luas. Buya terutama adalah seorang sejarawan dan mungkin juga pembaca buku-buku keislaman yang cukup luas. Tapi bacaan Gus Dur memang luar biasa, bukan hanya fikih, tapi juga fasih bicara sastra. Ketika masih SMP dan SMA dulu, saya juga sering melihat Gus Dur sebagai pengamat sepakbola. Ini menunjukkan bahwa perhatian Gus Dur terhadap banyak dimensi kehidupan sangat besar sekali.
JIL: Selain soal minat bacaan, apa perbedaan lainnya dengan sosok Buya Syafii yang beberapa bulan lalu juga meluncurkan otobiografinya yang memikat?
Moqsith: Mungkin yang juga berbeda adalah titik berangkatnya. Gus Dur bukanlah seorang ploretar, tapi datang dari kalangan aristokrat. Kakek dan bapaknya ibarat raja di dalam tradisi NU. Tapi anehnya, gagasan-gagasan Gus Dur itu potensial menghancurkan dirinya sendiri. Dari politik berwacana, itu sebenarnya merugikan. Tapi Gus Dur tetap melakukan itu. Gagasan-gagasannya seakan-akan ingin menghancurkan kelasnya sendiri. Dia kan seorang yang punya otoritas tinggi, tapi tiap hari ia seakan menghancurkan otoritasnya sendiri.
Itu dapat diamati dari pandangan-pandangan keagamaannya yang di kalangan para kyai cukup kontroversial. Kerja seperti itu, kalau tak hati-hati, tentu akan melenyapkan kharisma dan lain sebagainya. Tapi Gus Dur tidak peduli, ia tetap membuat perbedaan. Ia tetap konsisten menghadirkan sudut pandang yang berbeda dalam melihat banyak persoalan. Pembelaan Gus Dur terhadap kelompok minoritas seperti Ahmadiah, aliran kepercayaan, dan lain-lain, sudah konsisten ia lakukan sejak dulu dan sampai sekarang.
JIL: Mas Rumadi bisa menunjukkan konsistensi gagasan keislaman Gus Dur lebih rinci lagi?
Rumadi: Dilihat dari sejarah perkembangan pemikiran Gus Dur, masa-masa awalnya memang tak lempang-lempang amat. Dia pernah mendukung gagasan-gagasan Ihkwanul Muslimin yang dianggapnya sebagai salah satu ptototipe Islam yang benar. Tapi setelah belajar tentang nasionalisme Arab dan sosialisme di Irak, dia mulai berubah pikiran. Selanjutnya, perubahan-perubahan itu terus terjadi, terkait dengan pengalaman hidup Gus Dur sendiri.
Setelah melihat kenyataan Islam Indonesia, dia menemukan ide-ide baru yang pelan-pelan mulai menggeser cara pandangnya yang lama. Sekarang, yang dia pegang adalah prinsip-prinsip dasar Islam yang disebutkan tadi. Tapi dia terlihat konsisten dalam prinsip dasar pemikirannya. Dalam aksi politik, ia memang sering agak sirkus dan zig-zag. Tapi prinsip-prinsip dasar pemikirannya terlalu jelas untuk dilihat. Tak ada sesuatu yang samara-samar atau kabur. Prinsip-prinsip dasar pemikiran Gus Dur menurut saya terlalu jelas.
JIL: Anda bisa merinci gagasan-gagasan keislaman apa yang paling penting dari Gus Dur?
Moqsith: Yang sangat popular tentu soal pribumisasi Islam. Ini adalah cara Gus Dur khususnya dan NU umumnya untuk menolak Arabisasi. Tapi ini juga bukan pikiran yang baru datang dari Gus Dur, karena sejak dulu para kyai pesantren sudah punya kecenderungan untuk menghadirkan jenis keislaman yang khas Indonesia, tanpa banyak dicampur unsur Arabisme. Jadi pribumisasi Islam itu hanya stempelnya saja. Gus Dur berjasa menteorikannya. Gus Dur telah memberi nama terhadap jenis perjuangan yang dilakukan oleh para ulama Indonesia sejak Walisongo sampai sekarang.
Gagasan Gus Dur yang sampai sekarang masih konsisten juga adalah aspek penolakannya terhadap negara Islam. Dia mungkin terpengaruh oleh buah pikiran Ali Abdul Raziq (ulama Mesir) yang mengatakan tidak adanya konsep negara Islam. Sampai sekarang, dengan pilihan itu, dia dicaci-maki dan berhadapan dengan banyak orang.
Salah satu pemikiran Gus Dur yang sudah cukup jelas juga adalah visi kebangsaannya. Visi kebangsaan itu berulang kali dia tuangkan dalam ungkapan bahwa tidak ada ajaran Islam yang mengharuskan untuk menegakkan negara Islam. Itu berulangkali dia katakan. Dia juga sering mengatakan, ”Meski saya Islam dan mayoritas orang Indonesia itu beragama Islam, tidak terbesit sedikit pun di pikiran saya untuk mendominasi Indonesia ini atas nama Islam.” Gus Dur juga seringkali mengatakan bahwa yang ia perjuangkan adalah Islam berwatak kultural, bukan Islam yang selalu ingin tampil di kelembagaan politik. Prinsip itu diwujudkannya dengan cara membentuk partai politik yang bervisi kebangsaan.
Saya kira itu pikiran-pikiran dasar Gus Dur. Ia memang punya perhatian besar terhadap isu-isu politik, persoalan pluralisme dan sebagainya. Tapi yang tidak dilakukan Gus Dur adalah menulis secara serius pandangannya tentang perempuan. Saya kira, pada aspek itu ada kemiripan antara Gus Dur dengan almarhum Cak Nur.
JIL: Bisa lebih detil tentang sejarah penyikapan NU atas perjuangan politik yang menginginkan negara Islam di Indonesia?
Rumadi: Pada masa awalnya, tahun 1945--1955, NU berada dalam blok atau kelompok yang memperjuangkan tegaknya Islam sebagai dasar negara. Tapi di situ ada polemik antara Gus Dur dan adiknya, Gus Solah (Solahuddin Wahid). Gus Dur bilang, NU tidak mendukung Islam sebagai dasar negara, sementara Gus Solah bilang sebaliknya. Saya cenderung mengatakan bahwa NU pada mulanya berada dalam blok yang menginginkan Islam sebagai dasar negara.
Tapi sejarah tidak berjalan linier. Di tengah arus, ada masa ketika NU harus mengambil sikap tentang hidup bernegara. Itu secara jelas diproklamasikan di tahun 1984, dipelopoli langsung oleh Gus Dur. Di situ dikatakan bahwa Indonesia sebagai negara kesatuan dengan Pancasila sebagai dasarnya, merupakan bentuk yang final bagi NU. Apakah pernyataan final itu cerminan keinginan jamaah NU, atau cerminan situasi ketika NU tidak bisa berkata lain, tentu akan diuji sendiri oleh sejarah.
Buktinya, dalam perkembangan belakang, ada saja beberapa kompenen NU yang tidak tahan akan godaan negara Islam. Itu bisa dibuktikan lewat kelompok-kelompok di dalam NU yang membuat partai dengan Islam sebagai asasnya. Bahkan dalam Muktamar NU tahun 1999, ada juga yang mengusulkan agar NU kembali ke asas Islam, meski suara itu akhirnya bisa dieliminasi. Saya kira, ini merupakan salah satu bentuk pergumulan pemikiran NU. Arus besarnya memang masih dikusai kalangan yang menginginkan NKRI. Tapi riak-riak yang menghendaki dan memimpikan adanya negara Islam tampaknya tak juga pernah mati di lingkungan NU.
JIL: Gus Dur pernah menulis tentang Islam sebagai faktor komplementer atau pelengkap Indonesia. Apakah gagasan seperti itu masih dianut mayoritas di NU atau sudah diganti menjadi Islam sebagai kekuatan hegemonik?
Moqsith: Gagasan Islam sebagai faktor komplementer itu saya kira bukan hanya dimiliki Gus Dur, karena kyai-kyai lain juga berpikir tentang hal yang sama. Dan sampai sekarang, saya kira gagasan itu masih cukup kuat. Itu dapat dibuktikan dari pandangan beberapa kyai, termasuk KH Sahal Mahfudz yang menolak formalisasi syariat Islam atau perda bernuansa syariah Islam. Gus Mus atau KH Mustofa Bisri juga seperti itu. Artinya mereka ingin menjadikan fikih sebagai dunia di dalam basis kulturalnya saja dan tidak masuk ke dalam institusi negara. Itu pandangan yang hampir merata di lingkungan kiay-kiay NU. Kyai Sahal telah menolak fikih dijadikan hukum positif negara, tetapi menerimanya sebagai etika sosial. Karena itu, keterlibatan Islam di dalam negara yang majemuk ini tidak bisa dalam format ingin mendominasi dan menjadi satu-satunya faktor penentu. Ia hanya menjadi unsur komplementer saja…
JIL: Sebagai generasi muda NU, seberapa jauh pikiran-pikiran Gus Dur mempengaruhi Anda dan teman-teman?
Moqsith: Bagi saya, Gus Dur itu adalah jendela bagi warga NU. Melalui jendela itulah warga NU bisa mengintip, bisa melihat luasnya dunia luar. Keberhasilan Gus Dur terletak dalam cara dia menginspirasi anak-anak muda di pesantren. Lewat Gus Dur, anak-anak muda mulai belajar menulis dan berpikir secara kritis. Di tahun 1991, ada rumusan pentingnya melakukan kontekstualisasi pemahaman kitab kuning. Itu tidak terlepas dari upaya-upaya yang dilakukan generasi-generasi tua NU seperti Gus Dur, Masdar Farid Mas’udi, dan lain-lain. Saya kira di situ terletak peran yang sangat besar dari Gus Dur.
Yang kedua, dari segi gagasan, Gus Dur itu memang mumpuni, terlepas dia adalah seorang Gus, anak dari bapaknya dan cucu dari kakeknya yang mendirikan NU. Karena itu, ia memiliki otoritas sangat besar untuk melakukan perubahan-perubahan paradigmatik di lingkungan NU. Apa yang dilakukan Gus Dur akan gampang diamini anak-anak muda. Resistensi atas gagasan dan gerakannya pun tidak akan terlalu kuat ketimbang kalau dikatakan dan dilakukan orang lain. Jadi, keluar Gur Dur menjadi jendela, di dalam ia menjadi garansi bagai anak-anak muda. Kalau anak-anak muda dikritik para kyai, Gus Dur akan memberi penjelasan-penjelasan dengan menggunakan bahasa kyai, dlsb.
JIL: Anda optimistis atau pesimistis akan perkembangan intelektual anak-anak muda NU setelah Gus Dur?
Moqsith: Saya kira ke depan kita tak bisa lagi bersandar pada individu atau tokoh. Itu harus diakhiri. Apa yang dilakukan anak muda NU sekarang adalah institusionalisasi gagasan-gagasan Gus Dur. Itu sudah berkembang melalui lembaga-lembaga pendidikan alternatif yang dikembangkan sejumlah NGO/LSM di beberapa daerah. Kalau terus mengandalkan tokoh, sejumlah tokoh memiliki keterbatasan. Ketika Gus Dur menjadi politisi dalam pengertian yang sesungguhnya, susah mengikuti alur permainannya yang bagai sirkus.
Untungnya anak-anak muda NU mampu menentukan barometer: yang harus kita ikuti dari Gus Dur adalah Gus Dur yang makro, bukan Gus Dur yang mikro, seperti istilah almarhum Cak Nur. Gus Dur yang kulli bukan Gus Dur yang juz’i. Itu saya kira patokan yang baik bagi kita dalam melakukan gerakan perubahan sosial di tengah-tengah masyarakat. Saya kira, gagasan-gagasan Gus Dur tetap relevan karena ia lebih banyak bukan gagasan yang tentatif. Pemikiran Gus Dur tentang pribumisasi Islam, saat ini makin relevan seiring makin maraknya orang berpikir tentang negara Islam dan mengintensifkan Arabisasi terhadap Islam.
JIL: Bagi Anda seperti apa kedudukan Gus Dur bagi generasi muda NU?
Gus Dur bukan hanya jendela tapi juga lokomotif. Di belakang Gus Dur terdapat banyak anak muda NU yang disebut progresif atau apapun namanya. Semaunaya tidak ada yang terlepas dari inspirasi Gus Dur. Tapi memang ke depan kita tidak bisa bersandar pada Gus Dur atau figur seorang tokoh. Tapi gagasan-gagasannya memang tetap perlu disosialisasikan, diterjemahkan ke dalam tindakan-tindakan yang lebih riil. []
Gus Dur Luncurkan Situs Pribadi
Jakarta, gusdur.net
Untuk menyampaikan berbagai gagasannya termasuk mengenai demokrasi dan humanisme kepada masyarakat luas, mantan Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur) meluncurkan situs pribadi.
Situs dengan nama domain www.gusdur.net itu, diluncurkan bertepatan dengan Hari Kemerdekaan Indonesia, 17 Agustus 2002 di hotel Acacia, Kramat raya, Sabtu, siang.

Menurut Alissa Rahman, putri pertama Gus Dur yang juga penanggung jawab situs tersebut, situs itu sebenarnya telah dibangun sejak Gus Dur masih menjabat Presiden. "Tetapi karena bapak dulu masih sibuk mengikuti perkembangan politik di Tanah Air, situs ini ditunda dulu peluncurannya," kata Alissa."Tujuannya untuk menyampaikan berbagai gagasan, pokok pikiran dan ide-ide bapak (Gus Dur) secara utuh, agar masyarakat mendapat akses langsung", kata Lisa- panggilan akrabnya.

Berbagai komentar Gus Dur selama ini, seringkali dianggap kontroversial, dan membuat banyak kejutan serta memancing berbagai komentar dari berbagai kalangan. Hal ini terjadi karena seringkali gagasan itu muncul melalui kutipan pers secara sepotong-sepotong, sehingga kurang dipahami oleh masyarakat.

Melalui situs ini, Gus Dur secara rutin akan menyampaikan gagasan-gagasan itu secara utuh, agar masyarakat memahami latar belakang maupun konteksnya. Berbagai pokok pikiran Gus Dur itu akan dihadirkan melalui rubrik "Memahami Gus Dur"

Ria Irawan dan Pengamen Jalanan
Tamu-tamu yang akan hadir dalam acara itu acara peluncuran website Gus Dur, dari berbagai kalangan, mulai mantan Menteri masa pemerintahannya, relasi, kalangan pers dan aktivis pro demokrasi.Dalam peresmian situs, juga diadakan obrolan santai dengan tema Gus Dur: Antara Sarung dan Internet. Sebagai pembicara adalah, Gus Dur sendiri, sineas, Garin Nugroho, penulis buku "Hari-hari Indonesia Gus Dur", Budiarto Tanudjaja, penulis "Dibalik Sarung Presiden Gus Dur", Luqman Hakiem, dan Sucipto Wirosardjono.Selain itu peluncuran website ini akan dimeriahkan oleh iringan lagu-lagu para musikus yang berasal dari pengamen jalanan dan anak-anak jalanan. Artis Ria Irawan dengan beberapa rekannya akan tampil membaca puisi.

Isi www.gusdur.net kebanyakan adalah berita seputar aktivitas dan ide-ide Gus Dur. Rubrik lain yang dapat disimak adalah Memahami Gus Dur (berbagai tulisan Gus Dur dari berbagai aspek), Biografi, Anekdot dan Joke (joke-joke yang selama ini sering dilontarkan Gus Dur), Kolom yang berisi artikel-artikel para pakar, Galery foto-foto Gus Dur dan berbagai artikel berbahasa Inggris. Dalam situs itu Gus Dur juga menyisipkan "Tanya Jawab", sebuah rubrik interaktif yang dapat digunakan masyarakat untuk berdialog langsung dengan dirinya.
SBY Dinilai Monopoli Jasad Gus Dur (Bahkan Khofifah Tak Boleh Masuk)

SBY dinilai berlebihan memberi penghormatan akhir pada Gus Dur. Protokoler begitu ketat, mengabaikan tradisi kaum Nahdliyin. Bahkan Khofifah Indar Parawansa, sahabat Gus Dur dan mantan menteri dalam kabinet Gus Dur ini ditolak masuk areal pemakaman. Pendeknya, Gus Dur mendadak jadi milik SBY, mulai dari RSCM, Ciganjur, sampai Jombang.
Menurut Adhie Massardi, yang selama sepuluh tahun terakhir mendamping Gus Dur, penghormatan yang diberikan pemerintah salah kaprah. Protokoler SBY telah membuat banyak santri dan kiai pendukung Gus Dur baik kehilangan kesempatan memberikan penghormatan terakhir dengan cara mereka.
“Pesantren dan kaum Nahdliyin memiliki tata cara sendiri dalam menghormati kiai yang meninggal dunia, termasuk Gus Dur. Protokoler yang berlebihan malah membuat banyak kiai dan santri teralienasi di rumah mereka sendiri. Banyak yang menyesalkan hal ini,” ujar Adhie kepada Rakyat Merdeka Online, (Jumat, 1/1).
Adhie ikut menghadiri pemakaman Gus Dur di Jombang. Tetapi menurutnya, dia dan sejumlah teman dekat Gus Dur semasa hidup, seperti Khofifah Indar Parawansa yang juga mantan menteri Kabinet Persatuan Nasional, dilarang memasuki areal pemakaman. Adhie menambahkan, sebagai mantan presiden Gus Dur memang berhak mendapatkan penghormatan dari negara. Tetapi di sisi lain, seharusnya Presiden SBY juga memahami local wisdom kaum Nahdliyin.
“Mereka ini nampak menguasai, mulai dari RSCM, Ciganjur sampai Jombang. Seakan-akan Gus Dur mendadak jadi milik Presiden SBY,” ujarnya lagi.
Di sisi lain, Adhie juga mengatakan bahwa yang harus dihormati bukan sekadar jasad Gus Dur, melainkan buah pikiran Gus Dur yang intinya adalah pengakuan prinsip pluralisme yang menjadi pondasi nasionalisme Indonesia, juga demokrasi yang dilandasi pada prinsip kesetaraan sesama warga negara.
“Kalau pemerintahan SBY-Boediono ini memang menghormati Gus Dur, mestinya mereka juga mau menciptakan pemerintahan yang bersih,” sambung Adhie.
Kepada masyarakat luas dia berpesan agar tidak meniru sikap pemerintah yang hanya menghormati jasad Gus Dur dan mengabaikan pikiran dan cita-cita Gus Dur. Ujung dari cita-cita Gus Dus, kata Adhie sekali lagi, adalah kesejahteraan rakyat.
Gus Dur yang Universal dan Partikular
Surabaya, wahidinstitute.org
Buku terbaru karya Presiden Republik Indonesia ke-4 KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Islam Kosmopolitan, ramai didiskusikan. Kamis (8/11/2007) sore lalu misalnya, Komunitas Baca Surabaya (Kombas) bekerjasama dengan the WAHID Institute mendiskusikannya di ruang rektorat Institute Agama Islam Negeri (IAIN) Sunan Ampel Surabaya Jawa Timur.
Buku terbitan the WAHID Institute tahun 2007 ini, didiskusikan oleh tiga intelektual muda NU pengagum sekaligus ‘titisan’ Gus Dur: Direktur Eksekutif the WAHID Institute Ahmad Suaedy, Dosen UIN Syarif Hidayatullah Jakarta DR. Rumadi dan Dosen Universitas Paramadina DR. Abdul Moqsith Ghazali. Dosen IAIN Sunan Ampel DR. Masdar Hilmy didaulat sebagai moderator. Sedang ratusan mahasiswa S1 dan S2 pascasarjana IAIN Sunan Ampel hadir sebagai peserta.
Dalam uraiannya, Ahmad Suaedy lebih banyak menyorot proses menjelang penerbitan buku yang dieditnya ini. Buku ini, katanya, berisi kumpulan tulisan Gus Dur antara tahun 1970 hingga 1980-an. “Pikiran Gus Dur begitu kaya dan tidak hanya bersumber pada Islam formal, tapi dari Jawa dan Barat. Jarang ada orang yang demikian,” ujarnya.
Buku ini, jelasnya, bermula dari pidato atau diskusi mantan Presiden itu yang ditranskrip, ketika di Institute Tehnologi Bandung (ITB). Masjid Salman dan ITB, kala itu sedang berada pada puncak ketenaran, karena menjadi kiblat pembaharuan pemikiran Islam. “Pidato Gus Dur tentang kosmopolitanisme Islam berawal dari situ,” terangnya.
Secara jujur, Suaedy mengagumi referensi yang digunakan Gus Dur dalam buku ini. “Ini luar biasa. Mulai dari novel abad pertengahan, referensi Barat, sampai referensi terbesar abad keemasan Islam,” jelasnya.
Lantas, apa sesungguhnya yang dimaksud kosmopolitanisme Islam oleh Gus Dur?
Suaedy yang memang dekat dengan Gus Dur, baik secara pribadi maupun intelektual, mencoba mengurai jawabnya. Dikatakannya, kosmopolitanisme Islam dalam konsepsi Gus Dur adalah situasi ketika pemikiran Islam begitu terbuka, baik untuk mengkritik maupun menerima pemikiran dari Barat dan yang lain.
“Bagi Gus Dur, puncak kosmopolitanisme Islam adalah ketika semua orang bebas mengekspresikan pikiran-pikirannya. Se-kontroversial apapun, pikiran harus diberi ruang berekspresi. Dan orang lain hanya boleh menanggapi dengan cara yang sama. Tidak boleh orang berfikir lantas ditangkap,” jelasnya.
“Dan pada saat yang sama, juga harus ada penghormatan terhadap kemanusiaan,” tambahnya.
Melihat gagasan-gagasan progresif Gus Dur yang belum sepenuhnya terejawantahkan dalam kenyataan, Suaedy berharap, muncul generasi-generasi baru yang akan meneruskan gagasan-gagasan itu. “Makanya perlu diciptakan Gus Dur-Gus Dur lokal,” katanya.
Rumadi, dalam uraiannya, menyorot cucu pendiri NU KH. M. Hasyim Asyari ini dari sisi keotentikannya sebagai seorang muslim. “Sejauh apapun melangkah, Gus Dur tetap dipandang sebagai muslim yang otentik. Tidak ada orang yang meragukan keislamannya,” katanya.
Karenanya, penulis buku Renungan Santri (Erlangga: 2007) ini setuju pada John L. Esposito yang menggelari Gus Dur sebagai ‘modern thinker but not moslem modernist’ (pemikir modern, tapi bukan muslim modernis). “Itu karena, antara lain, apapun yang dikatakan Gus Dur tidak pernah lepas dari akar tradisinya. Dalam memaknai kehidupan, umpamanya, ia selalu menggunakan basis tradisi yang dimilikinya,” terangnya.
Basis tradisi itu, ujar Rumadi, membuat Gus Dur tidak silau pada kemodernan, meskipun ia banyak menyerap berbagai macam pemikiran sebagaimana watak kosmopolitanisme Islam yang ingin ditunjukkannya. “Gus Dur selalu mendialogkan antara yang diserap dari dunia luar dengan tradisi yang dimiliki,” ujarnya.
Misalnya, karena banyak menelaah pikiran-pikiran modern, doktrin Aswaja (ahlus sunnah wal jamaah) di lingkungan Nahdlatul Ulama (NU) yang tradisional, itu di tangan Gus Dur menjadi sangat progresif. “Di tangan Gus Dur, Aswaja menjadi sangat dinamis dan menjadi alat untuk berdialog dengan realitas. Itulah cara Gus Dur keluar dari kesuntukan kehidupan,” urainya.
Dikatakan Rumadi, ‘daya cengkeram’ pemikiran Gus Dur yang berbasis tradisi itu begitu kuat bagi warga nahdliyyin. Karenanya, jika ada warga nahdliyyin yang berpikiran progresif, maka ia tidak bisa terlepas dari ‘cengkeraman’ Gus Dur. “Siapapun yang dianggap berani berfikir maju, pada saat yang sama ia mempunyai keterkaitan atau setidaknya memanfaatkan ruang yang dibuka Gus Dur,” ujarnya.
Namun demikian, Rumadi mengingatkan, saat ini adalah masa yang berat untuk mengembangkan pemikiran keagamaan progresif. “Kita perlu energi lebih besar ketimbang pada masa Gus Dur tahun 80-an. Apalagi kita nggak punya apa-apa. Orang kampung dan bukan anak kiai. Kalau sudah dicap sesat, kita akan masuk keranjang sampah,” jelas Rumadi yang menilai buku Islam Kosmopolitan sebagai ‘relatif tidak terkontaminasi oleh politik praktis’ dan ‘pemikiran keislamannya jernih’ ini.
Dua Wajah Gus Dur
Abdul Moqsith Ghazali, yang mengaku ‘terhipnotis sihir’ Gus Dur ketika masih di pesantren menyatakan, Gus Dur harus dikategorikan menjadi dua; Gus Dur yang partikular atau juz’i dan Gus Dur yang universal atau kulli.
“Kalau menggunakan bahasa orang pesantren, Gus Dur yanqasimu ila qismain; Gus Dur juz’iyyun wa Gus Dur kulliyyun,” ujarnya disambut tawa.
Gus Dur sebagai sesuatu yang partikular atau juz’i, kata Moqsith, betul-betul harus diperhatikan karena sifatnya yang mudah sekali berubah. “Sebagai praktisi politik misalnya, Gus Dur dituntut bergerak zig-zag. Karenanya, seringkali langkah Gus Dur sulit diikuti,” jelasnya.
Langkah partikular Gus Dur yang mudah berubah dan zig-zag itu, tamsil Moqsith, laksana definisi i’rab dalam kitab nahwu Jurumiyyah, yaitu al-i’rab huwa taghyir ahwal awakhir al-kalim li ikhtilaf al-‘awamil al-dakhilah ‘alaiha (i’rab adalah perubahan akhir kalimat, karena perbedaan faktor yang masuk pada kalimat itu).
“Gus Dur yang partikular atau juz’i, itu hanya pinggiran-pingiran atau ahwal awakhir al-kalim-nya saja yang berubah. Tapi Gus Dur yang universal atau kulli tidak pernah berubah,” jelasnya.
“Gus Dur yang kulli, misalnya, tidak akan pernah menawar menyangkut advokasinya pada isu-isu pluralisme, dukungan atau perhatiannya pada kelompok minoritas. Gus Dur yang kulli juga tidak akan pernah menimbang apakah langkahnya secara politik merugikan atau tidak,” imbuhnya.
Karena itu, harap Moqsith, kita jangan mudah terjebak dengan memperhatikan langkah Gus Dur yang partikular belaka. Yang harus diperhatikan, katanya, adalah yang ada di dalamnya, bukan yang ahwal awakhir al-kalim. “Jangan sampai Gus Dur yang kulli ini dikalahkan oleh Gus Dur yang juz’i. Itu harapan saya sebagai anak muda. Ini fatwa dari saya,” terangnya.
Dengan penyikapan demikian, aku Moqsith, dirinya tidak pernah gelisah atau gundah menatap sikap dan tindakan Gus Dur yang zig-zag tak bisa terdeteksi. “Itu nggak usah diperhatikan. Itu semata taghyir ahwal awakhir al-kalim li ikhtilaf al-‘awamil al-dakhilah ‘alaiha, karena perbedaan faktor yang masuk saja,” tandasnya.
Moqsith juga menguraikan kelebihan Gus Dur dibanding pembaharu-pembaharu lainnya, yaitu penguasaannya yang kuat pada khazanah Islam klasik. Disamping melakukan kritik terhadap sejumlah tradisi, kata Moqsith, Gus Dur juga tetap mempertahankan tradisi itu sebagai bangunan dasar untuk melakukan pembaharuan-pembaharuan pemikiran Islam.
“Misalnya melalui pendekatan fikih dan ushul fikih-nya, Gus Dur melakukan pembaharuan pemikiran Islam. Ini jarang dipakai oleh Harun Nasution misalnya” ujarnya.
Terma hifdh al-din, satu diantara al-dharuriyyat al-khams (lima prinsip dasar) yang lumrah dikenal dalam fikih klasik, di tangan Gus Dur dimaknai sebagai ‘kekebasan beragama’. “Ini luar biasa. Hifdh al-‘aql yang biasanya dimaknai larangan meminum minuman keras, di tangan Gus Dur menjadi bermakna kebebasan berfikir dan berekpresi,” terangnya.
Karena alat ucapnya adalah tradisi, simpul Moqsith, maka pikiran-pikiran Gus Dur mudah mengalami penerjemahan pada tingkat praksis di lapangan. “Ini berbeda dengan pikiran Harun Nasution yang tidak menggunakan alat ucap tradisi. Resistensinya menjadi sangat tinggi,” katanya.
Kendati mengagumi Gus Dur, Moqsith tak sungkan dan tak canggung melancarkan kritik. Misalnya tentang isu-isu kesetaraan laki-laki perempuan yang sepi dari sorotan Gus Dur. “Padahal isu ini pada tahun 80-an sudah cukup seksi dibicarakan di lingkungan pembaharu Islam. Namun Gus Dur, termasuk Cak Nur, mengambil posisi untuk tidak membicarakannya sebagai bagian dari agenda pembaharuannya. Mungkin mereka sengaja,” katanya.
“Dugaan saya, kalau mengambil isu ini mereka akan menghadapi tembok besar para kiai. Tradisi selir dan poligami yang bersemayam di dalam masyarakat Jawa, itu agak sulit dihancurkan oleh orang-orang dalam pesantren sendiri. Tapi pelan-pelan, anak mudanya sekarang mulai melakukan pembaharuan pemikiran Islam dari perspektif perempuan. Ini kelanjutan para mentornya saja,” imbuhnya.
Gus Dur, ujar Moqsith, juga jarang sekali berbicara isu-isu yang detail, semisal hukum menonton VCD porno dan sebagainya. “Padahal itu menarik. Fikih klasik itu sangat kaya. Kita bisa menemukan jawaban apa saja. Tidak ada satu pandangan yang tunggal di dalamnya,” pungkasnya.[nuha]

Membaca Jalan Pikiran Gus Dur

Ditulis oleh K.H.M. Fuad Riyadi
Wednesday, 23 April 2008
Sungguh disayangkan Muhaimin Iskandar, politisi muda berbakat luar biasa itu, akhirnya memilih langkah menuju ketidakjelasan karier politiknya. Pekan-pekan terakhir ini, dia mengulangi kekeliruan yang telah “dicontohkan” Mathori Abdul Jalil dan Alwi Shihab; melawan Gus Dur (KH Abdurrahman Wahid) di jagad PKB (Partai Kebangkitan Bangsa). Seperti biasanya, Gus Dur “dengan seenaknya” dan over PD (percaya diri) bilang, perlawanan Muhaimin hanya sia-sia. “Seperti yang sudah-sudah, nanti saya yang menang (lagi)”, demikian pernyataan Gus Dur kurang lebihnya.
Muhaimin tak bisa disamakan dengan Saifulloh Yusuf atau Choirul Anam. Meski sama-sama melawan Gus Dur, Saiful “tidak habis” karier politiknya. Choirul malah jadi ketua PKNU (Partai Kebangkitan Nasional Ulama, sebuah nama partai yang kurang sedap bunyinya didengar telinga, gara-gara mengejar singkatan “NU”) yang siap-siap “mempecundangi” PKB pada pemilu mendatang. Memang, seperti Saifulloh dan Choirul Anam, Muhaimin juga dibela sejumlah kiai. Bedanya, Saifulloh dan Choirul Anam dibela banyak kiai kharismatik seperti dari poros Langitan yang di luar jangkauan bayang-bayang Gus Dur (Gus Dur saja dulu menyebut mereka kiai khos untuk menunjukkan penghormatan luar biasa), sementara Muhaimin hanya didukung sejumlah kiai yang (masih) tergabung dalam jajaran dewan pimpinan PKB: barisan kiai yang masih di bawah bayang-bayang Gus Dur alias kalah awu.
Tuduhan klasik Gus Dur bahwa Muhaimin diperalat SBY, boleh saja dianggap angin sepi dan ngawur oleh Andi Malarangeng (jubir SBY). Paling tidak, kepastian PKB sebagai salah satu partai peserta Pemilu 2009 dengan adanya konflik internal tersebut menjadi terhambat. Tuduhan Fachri Ali bahwa Gus Dur menerapkan politik patron di PKB –siapa pun kalau tidak mau menempatkan Gus Dur sebagai bos pasti dibuang-, boleh saja membesarkan hati Muhaimin dan kawan-kawannya. Namun, beberapa catatan berikut ini tak ada salahnya untuk dipertimbangkan
Dulu, Mathori ditendang Gus Dur sebelum diangkat menjadi Menteri Pertahanan oleh Megawati. Tuduhan serupa juga pernah dilayangkan Gus Dur kepada Alwi Shihab. Ujung-ujungnya, Alwi kini diangkat menjadi duta besar setelah keok berebut PKB. Ketika Gus Dur menuduh KPU sarang maling dan diperalat oleh salah satu kandidat calon presiden, orang mengira tuduhan itu asbun alias asal bunyi dan semata-mata karena Gus Dur kagol tidak diloloskan KPU sebagai salah satu calon presiden periode 2005-2009. Belakangan, Hamid Awaludin (salah satu anggota KPU) jadi menteri hukum dan perundang-undangan(?). Dan lebih gilanya lagi, seorang profesor doktor seperti Nazarudin Syamsudin (ketua KPU), Mulyana W Kusuma –dua tokoh yang rasa-rasanya impossible melakukan korupsi- dan beberapa anggota KPU pusat lainnya benar-benar terbukti di pengadilan sebagai “tuan rumahnya” sarang maling. Hamid Awaludin pun, terlibat atau tidak, akhirnya lengser dari kedudukan sebagai menteri hukum dan perundang-undangan.Lebih ke belakang lagi, beberapa pekan sebelum SU MPR tahun 1999 yang menetapkan Gus Dur sebagai presiden, dia sudah bilang kepada banyak orang, salah satunya Syafii Maarif yang waktu itu ketua Muhammadiyah, bahwa dia akan jadi presiden.
Politik Patron
Memang, dalam Piala Dunia tahun 2002 di Korea Selatan, Gus Dur memprediksikan final akan terjadi antara kesebelasan Korea Selatan lawan Turki. Ternyata, justru Jerman dan Brasil yang maju ke final. Tapi, harap dicatat, (1) Gus Dur tidak menyaksikan pertandingan sepakbola dengan matanya sendiri, hanya lewat telinga, karena waktu itu Gus Dur sudah mengalami kebutaan, (2) banyak pakar bola juga sependapat dengan prediksi Gus Dur.Kini, soal politik patron seperti sinyalemen Fahri Ali. Perlu dipertimbangkan beberapa kalimat pertanyaan dan kemungkinan jawaban berikut ini: lebih populer mana antara PKB (bahkan NU sekalipun) dibandingkan Gus Dur? Kemungkinan jawabannya; Gus Dur. Untuk saat ini, bisakah PKB tanpa Gus Dur? Kemungkinan jawabannya; sulit. Bisakah Gus Dur meneruskan sepakterjang di dunia politik tanpa PKB? Jawabnya; bisa. Di antara politisi PKB lainnya, sudah adakah sosok yang bisa mengimbangi atau melebihi Gus Dur dari segi popularitas, intuisi, kharisma, kecerdasan, pengaruh dan pengalaman di dunia politik? Jawabnya; belum. Muhaimin, seperti Mathori, Alwi, Saifulloh, dan Choirul Anam, belum kelasnya melawan Gus Dur. Ibarat kesebelasan anggota divisi II PSSI bertanding melawan tim inti Manchester United! Seumpama Cris Jon melawan Mike Tyson!
Politik patron yang terjadi secara alamiah di PKB hanya menunjukkan bahwa politisi PKB masih harus banyak belajar dan bersabar menunggu waktu hingga mereka setidak-tidaknya bisa sekelas dengan Gus Dur. Benar nasehat Effendi Choiri, salah seorang politisi PKB seangkatan Muhaimin, kalau Muhaimin mau manut Gus Dur yang memang sejak awal adalah guru sekaligus bapak ideologisnya, dia selamat. Bisa jadi Muhaiminlah yang paling layak sebagai calon pewaris tahta Gus Dur di PKB. Tapi, kalau membangkang seperti sekarang? “Saya yang menang (lagi), Kang!”, begitu kira-kira Gus Dur bilang. Namun itulah yang namanya politik. Pagi kedelai sore sudah bisa menjadi tempe atau tahu atau apalagi bentuknya, terserah sang aktor yang kuat posisinya. Yang jelas dunia politik tak ada yang pasti!
Terakhir Diperbaharui ( Saturday, 16 May 2009 )
Gus Dur, Antara Cendekiawan dan Politisi
Oleh Eman Hermawan
K.H. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) adalah tokoh fenomenal dalam dunia politik dan pemikiran Indonesia di seperempat terakhir abad ke-20. Ia hadir sebagai cendekiawan dan sekaligus politisi yang menonjol sejak pertengahan tahun 1970-an. Demikian ditulis Mitsuo Nakamura "The Oxford Encyclopedia of the Islamic World, Vol. I, Tahun 1995: 14".
Sebagai cendekiawan, Gus Dur telah membangun suatu proses pencerahan yang menyeluruh dalam kehidupan masyarakat Indonesia, khususnya warga Nahdlatul Ulama. Pemikirannya yang tertuang dalam berbagai tulisannya adalah rujukan sekaligus inspirasi bagi banyak orang.
Sementara sebagai politisi, Gus Dur telah berhasil menjadi orang nomor satu di Indonesia, menjadi presiden selama 21 bulan (Oktober 1999-Juli 2001). Setelah lengser dari jabatan presiden, Gus Dur kemudian menjadi Ketua Umum Dewan Syura DPP PKB, sejak 2001 sampai saat ini.
Benar kata Michel Foucault bahwa di balik motif pencerahan dan pemberdayaan yang dimiliki oleh seorang cendekiawan, sebenarnya terdapat dorongan untuk berkuasa dan mendominasi (Michel Foucault, Power/Knowledge, 1980).
Kemudian, sebagian dari kita akhirnya menyaksikan bahwa Gus Dur tampaknya lebih sukses sebagai cendekiawan daripada politisi.
Cendekiawan
Gus Dur pertama kali muncul di tengah masyarakat Indonesia sebagai cendekiawan. Sejak awal 1970-an, ia banyak menulis di media massa maupun jurnal ilmiah. Ia juga diundang sebagai penceramah dalam berbagai seminar, baik yang diadakan oleh lembaga-lembaga pendidikan, ormas maupun departemen pemerintah.
Setelah menjadi Ketua Umum Pengurus Besar NU pada tahun 1984, Gus Dur lebih sering tampil sebagai seorang juru dakwah yang mengisi ceramah agama di tengah masyarakat di hampir seluruh pelosok tanah air.
Gus Dur adalah representasi pemikir Islam yang secara terus-menerus berusaha menerjemahkan Islam dengan visi humanitarianistik. Dengan modal khazanah pemikiran klasik yang menjadi ciri khas pesantren, ia mampu menghadirkan suatu konstruksi pemikiran dan sikap keberagamaan yang lebih membumi, toleran, dan bersahabat dengan realitas sosial yang ada.
Gus Dur mampu menjadi "jendela rumah NU" yang selama bertahun-tahun dicap dengan berbagai label kemunduran, keterbelakangan, dan kejumudan. Ia menjadi lokomotif transformasi pemikiran warga NU, khususnya di kalangan anak muda sehingga NU diakui sebagai pilar masyarakat sipil yang utama.
Sebagai cendekiawan, Gus Dur adalah jembatan nilai-nilai dan berbagai kelompok kepentingan yang ada. Gus Dur adalah jembatan antara tradisi dan kemodernan, sipil dan militer, masyarakat dan negara, mayoritas dan minoritas, LSM dan pemerintah.
Di bawah kepemimpinan Gus Dur, NU pun bisa menjadi salah satu pelopor demokratisasi politik bangsa, pemberdayaan masyarakat, dan pencerahan pemikiran melalui berbagai bentuk kajian kritis tentang Islam dan tradisi.
Tidak heran jika atas kepeloporan dan kesuksesannya melakukan transformasi menyeluruh di tengah masyarakat, NU itu menjadi bagian tak terpisahkan dari transformasi bangsa in toto, kemudian banyak intelektual asing yang tertarik meneliti pemikiran Gus Dur. Sebut saja Adam Schwartz, Douglas E. Ramage, Mitsuo Nakamura, Martin van Bruinessen, Andree Feillard, Greg Fealy, dan Greg Barton, untuk menyebut beberapa nama, yang telah menulis berbagai artikel, makalah, dan buku tentang Gus Dur. Barangkali, tidak ada cendekiawan Indonesia yang lebih populer dari Gus Dur pada akhir abad ke-20 yang lalu.
Politisi
Sebagai politisi, Gus Dur juga tergolong sukses. Ia sangat piawai dan berhasil mencuri momentum sehingga bisa menjadi presiden ke-4 RI. Kecerdasan, kejelian, dan sekaligus kemampuan humornya yang tinggi membuatnya bisa dterima berbagai kalangan, baik militer, birokrasi, LSM, dan kelompok-kelompok di luar Islam.
Kedekatannya dengan berbagai kalangan itu yang membuatnya lebih leluasa berkomunikasi dengan pihak lain, memahami pendapat mereka, dan sekaligus mengomunikasikan pendiriannya sendiri. Oleh karena itu, ia bisa dekat dengan LB Moerdani, tetapi juga tetap kritis dengannya. Ia juga dekat dengan Soeharto, tetapi tidak pernah dicap sebagai antek Cendana.
Namun, nasib Gus Dur sebagai politisi tampaknya tidak sebaik posisinya sebagai cendekiawan. Sebagai cendekiawan, ia tetap dikenal dan disegani sebagai tokoh besar yang terus menjadi rujukan dan sumber inspirasi. Ilmu dan pengetahuan memang punya sifat yang abadi.
Sementara sebagai politisi, Gus Dur bisa dikatakan kurang berhasil. Ia gagal mempertahankan jabatan presiden yang memungkinkannya membuat perubahan struktural secara fundamental di negeri ini. Ia juga gagal meminimalisasi konflik di tubuh PKB. Bahkan dari waktu ke waktu, konflik di partai ini semakin parah.
Gus Dur juga tidak berhasil menjaga hubungan silaturahmi yang baik dengan kiai-kiai, NU, dan juga kader-kader yang dibesarkannya. Sebagian besar kader yang dibesarkan justru kemudian menjadi "musuh" politiknya. Demikian juga kiai-kiai yang dahulu gigih membelanya.
Oleh karena itu, tidak heran jika banyak kiai sepuh, tokoh-tokoh NU, dan keluarga besar K.H A. Wahid Hasyim sendiri yang menginginkan Gus Dur kembali sebagai cendekiawan rakyat, keluar dari politik praktis. Dengan begitu, ia akan kembali bisa lebih diterima oleh berbagai kalangan dan selalu dirindukan pemikirannya yang mencerahkan dan mencerdaskan semua orang. Seperti K.H. A. Wahid Hasyim (ayahanda Gus Dur) yang di akhir hayatnya--setelah menolak untuk dicalonkan kembali menjadi menteri agama--lebih memilih hidup sebagai cendekiawan dengan mengembangkan minatnya yang bersifat sosial dan kebudayaan.***
Penulis, Direktur Local Empowerment Center, Jakarta dan penulis buku "9 Alasan Mengapa Kiai-kiai tetap Bersama Gus Dur" (2007).
Gus Dur yang Saya Kenal...
Kamis, 31 Desember 2009 | 03:06 WIB
Telepon berkali-kali berdering, SMS berdatangan. Pertanyaannya satu: Benarkah Gus Dur meninggal dunia?
Sangat sulit untuk menjawab pertanyaan ini karena saya harus menjawab ”ya”. Dan, mereka semua menangis.Mereka adalah orang-orang biasa dengan latar agama yang berbeda. Mereka tak pernah mengenal Gus Dur secara pribadi, tetapi merasa dekat dengan tokoh ini.
Bagi mereka, Gus Dur adalah pembela kaum minoritas, Gus Dur pejuang Islam moderat, Gus Dur pembela demokrasi … dan masih banyak lagi.
Bagi saya, Gus Dur adalah tokoh besar yang sangat membumi. Perkenalan kami dimulai tahun 1992 ketika Gus Dur masih menjabat Ketua Tanfidziyah PB Nahdlatul Ulama di bawah rezim Soeharto. Secara intens kami sering berdiskusi di kamar kerjanya yang kecil dan bersahaja di Kantor PBNU di Kramat Raya.Di antara buku-buku, kertas, tumpukan kaset dan CD musik klasik yang memenuhi meja kerjanya, Gus Dur kerap ”menyembunyikan” makanan lorju’ (kacang bercampur ikan kecil). Ia senang mengobrol sambil mengudap.
”Jangan bilang-bilang ya, nanti Mbak Nur (Shinta Nuriyah, sang istri) marah, saya kan disuruh diet. Tapi, ini makanan enak,” katanya sambil terkekeh.
Sudah sejak lama Gus Dur mengidap diabetes sehingga sebetulnya ia dilarang untuk makan seenaknya. Tapi, Gus Dur memang susah dilarang. Lagi pula, siapa di lingkungan PBNU yang berani melarangnya? ”Yang berani cuma Mbak Nur,” katanya.
Topik diskusi yang sering kami singgung—kadang bersama tamu-tamu lain—antara lain tentang masa depan Nahdlatul Ulama. Sejak belasan tahun lalu Gus Dur sudah memproyeksikan bahwa akan ada tiga corak di tubuh NU.
Yaitu corak kiai fikih yang dirangsang pikiran modern (Gus Dur saat itu mencontohkan Kiai Ishomudin), corak LSM (ia mencontohkan Masdar Mas’udi), dan corak gado-gado, yaitu masyarakat biasa maupun politisi yang memiliki pengabdian di NU.
Dialog dari ketiga corak inilah, kata Gus Dur, yang akan menentukan wajah transformatif NU di masa depan.
Perkembangan Islam di Indonesia, toleransi terhadap agama lain, perlindungan terhadap kaum minoritas, dan demokrasi juga merupakan topik yang bisa membuatnya semangat berbicara sampai berjam-jam.
Mengenai wajah Islam Indonesia, misalnya, Gus Dur kala itu mendukung pandangan almarhum Nurcholish Madjid. ”Tolong Cak Nur dibela ya. Kasihan, saat ini dia sedang mendapat banyak tentangan,” pesannya kala itu.
Setiap hari, warga NU dari berbagai daerah setia menunggu di ruang tunggu Kantor PBNU (yang masih belum direnovasi) untuk bertemu dengannya. Mereka datang untuk meminta petunjuk tentang persoalan di daerah dan Gus Dur melayani mereka satu per satu.Gus Dur tak pernah membedakan kelas sosial. Warga NU yang menikah atau meninggal dunia akan dicoba untuk disambanginya. Meskipun ia harus masuk ke gang-gang kecil atau berkendaraan berjam-jam.
Saya masih ingat ketika ayahanda meninggal dunia tahun 1999, Gus Dur datang melayat dan ikut menshalati. Ia pun beberapa kali menelepon untuk menghibur dan memberi penguatan. ”Saya mengerti bagaimana kesedihan Anda. Saya juga sangat kehilangan ketika ibu dulu pergi,” kata Gus Dur tentang almarhumah ibunda, Ny Hj Solichah Wahid Hasyim.Bahkan, Gus Dur masih menyempatkan menjenguk ketika saya terbaring di rumah sakit. Sungguh sebuah bentuk perhatian yang mengharukan dari tokoh bersahaja ini.
Indra keenam
Banyak yang meyakini Gus Dur memiliki indra keenam. Terlepas dari benar atau tidaknya, tetapi suatu siang pada tahun 1998 Gus Dur menelepon. Kali ini cukup lama, sekitar satu jam. Ia menceritakan tentang berbagai hal, termasuk mimpinya. Singkatnya, mimpi itu memberikan isyarat yang nyata bagi Gus Dur.
”Mbak, saya akan menjadi presiden,” katanya tenang.
Saya tidak menanggapi dengan serius, tetapi saya mencatat obrolan itu. Sekitar setahun kemudian, Gus Dur benar-benar menjadi presiden.Ketika saya menemuinya di Istana Negara, Gus Dur hanya tertawa terkekeh ketika diingatkan akan mimpinya tersebut.Wajah Istana Negara pada masa kepemimpinan Gus Dur berubah total, tidak lagi angker dan formal. Wartawan maupun masyarakat bisa memiliki akses yang leluasa. Hubungan pun lebih cair dan penuh guyon.
Pertemuan saya terakhir adalah pada hari ulang tahunnya bulan Agustus 2009. Tercekat rasanya melihat Gus Dur dibaringkan di ruang tamu. Gus Dur berusaha menyambut setiap tamu dengan mengangkat tangan dan menganggukkan kepala. Meskipun suaranya sudah lirih, Gus Dur tetap semangat bercerita tentang Indonesia.
Dari karangan bunga dan banyaknya tamu yang datang hari itu, jelas bahwa tokoh besar ini sangat disayang masyarakat. Seorang sahabat bahkan sampai menitikkan air mata ketika mendoakan kesehatan Gus Dur. ”Saya mendoakan dia berumur panjang. Karena dialah pembela kaum minoritas,” katanya.Tuhan memiliki rencana sendiri. Innalillahi wa innailaihi rojiun. Tokoh besar ini meninggal dunia, Rabu (30/12), di tengah keluarga yang mencintainya. Indonesia kehilangan salah satu putra terbaiknya. Seorang demokrat yang gigih memperjuangkan kebebasan dan demokrasi.
Selamat jalan Gus, semoga kami bisa meneladani dan meneruskan semua perjuanganmu....
(Myrna Ratna)

SBY Pikirkan Gelar untuk Gus Dur dan Soeharto

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono akan mempertimbangkan keinginan berbagai pihak soal pemberian gelar pahlawan nasional untuk Gus Dur dan Soeharto. Pascawafatnya Gus Dur, banyak pihak yang mengusulkan agar Presiden RI ke-4 itu diberi gelar pahlawan nasional. Bersamaan dengan usulan untuk Gus Dur, mencuat pula usulan gelar pahlawan nasional untuk Presidea RI ke-2 Soeharto.
"Semua akan presiden pertimbangkan dengan merujuk UU 20/2009 soal gelar tanda jasa dan kehormatan. Ini kesepakatan pemerintah dengan DPR," kata Jubir Kepresidenan Julian Aldrin Pasha, Minggu (3/1).Berdasar aturan dalam produk hukum tersebut, pemberian gelar tanda jasa dan kehormatan tidaklah instan. Dalam Pasal 16 UU 20/2009, dengan „ tegas djnyatakaji terlebih dahu-tuperlu dibentuk IH-\v;in Gelar JSanda Jasa daa Kehormatan yang bertugas inemberi rekomendasi kepada Kepala Negara mengenai gelar paling tepat berdasar pada prestasi dan kualifikasi tokoh yang hendak diberi gelar.
"Anggotanya ada tujuh orang. Akademisi 2 orang, 2 dari militer atau berlatar belakang militer, dan 3 lagi adalah tokoh yang mempunyai gelar setara, serta relevan dengan gelar yang hendak diberikan," tutur Julian.Presiden bisa menunjuk siapa saja yang akan duduk dalam dewan itu. Julian mengaku belum mendengar rencana pembentukan dewan itu, baik bagi Gus Dur maupun Soeharto dalam waktu dekat. "Saya tidak tahu kok tiba-tiba kesannya Senin besok (hari ini-red.) Kepala Negara sudah akan memutuskan soal gelar itu," ujarnya.Sementara itu, keinginan agar Soeharto diberi gelar pahlawan digulirkan Ketua Fraksi Partai Golkar (PG) di DPR Setya Novanto. Menurutnya, PG siap mendukung Gus Dur sebagai pahlawan nasional. Namun, PG juga ingin agar Soeharto mendapat gelar serupa. "Pak Harto harus jadi pahlawan. Pak Harto sudah berbuat untuk rakyat," ujarnya. (Otc)*"
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menerima dan menyerahkan usulan pemberian gelar pahlawan nasional bagi Presiden Ke-4 RI K.H. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) ke mekanisme yang berlaku. Demikian diungkapkan Juru Bicara Kepresidenan Julian Aldrin Pasha di Kantor Presiden, Jakarta, Senin (4/1).
"Dalam hal ini, tentu saja ketentuan yang ada dalam UU No. 20/2009 yang mengatur pemberian gelar dan tanda jasa, tinggal nanti dilihat bagaimana proses selanjutnya dari usulan-usulan yang masuk," ujar Julian.Julian mengatakan,.Presiden Yudhoyono telahmengetahui masukan dari berbagai kalangan, tokoh masyarakat, juga dari parpol yang menginginkan pemberian gelar kehormatan kepada Gus Dur sebagai pahlawan nasional. Pemerintah harus membentuk dahulu Dewan Tanda-tanda Kehormatan yang bertugas memberikan pertimbangan atau masukan bagi Presiden tentang usulan dari nama-nama tersebut.
Menurut dia, komponen yang bisa memberikan pertimbangan terdiri atas tiga unsur, yaitu akademisi dua orang, unsur militer atau yang mewakili dua orang, dan sisanya dari tokoh masyarakat. Julian memaparkan bahwa tokoh masyarakat yang dimaksud adalah yang pernah mendapatkan gelar kehormatan."Jadi, berdasarkan pertimbangan dari Dewan Tanda-tanda Kehormatan Gelar, Presiden bisa memberikan keputusan apakah yang bersangkutan diberikan gelar pahlawan atau tidak. Tim atau dewan tersebut belum dibentuk pada saat ini," katanya.
Julian menyebutkan, usulan untuk menjadikan Presiden ke-2 RI Soeharto sebagai pahlawan juga akan dipertimbangkan oleh tim tersebut. Saat ditanya tentang kemungkinan Gus Dur akan memperoleh gelar pahlawan nasional pada Hari Pahlawan 2010, Julian menjawab hal itu bisa saja terjadi. Tidak tertutup kemungkinan kalau berbicara kemungkinan. Akan tetapi, yang pasti lazimnya pemberian gelar pada saat momen hari-hari besar. Jadi, tidak serta-merta Presiden memberikan gelar kepada seseorang tidak dalam konteks hari-hari besar," katanya.
PKB resmi ajukan Gus Dur
Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Senin (4/1), seeara resmi mengajukan surat kepada pimpinan DPR mengenai usulan pemberian gelar pahlawan nasional kepada almarhum K.H. Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Usulan itu pun disampaikan kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Mensesneg Sudi Silalahi, dan Menteri Sosial Salim Segaf Al-Jufri. Demikian diungkapkan Ketua Fraksi PKB DPR Marwan Jafar dan Sekretaris Fraksi PKB Muh. Hanif Dhakiri seusai menyampaikan usulan tersebut kepada pimpinan dewan, di Gedung DPR/MPR, kemarin.
Menurut Marwan Jafar, sejak Gus Dur meninggal pada 30 Desember 2009, pihaknya banyak menerima usul dan aspirasi dari berbagai lapisan masyarakat yang menginginkan agar Gus Dur diberi gelar pahlawan nasional.Masyarakat meminta FPKB menjadi lembaga yang mengusulkan secara resmi kepada pemerintah agar memberi gelar tersebut. Berdasarkan banyaknya aspirasi masyarakat dan data-data yang terkait dengan kiprah Gus Dur, FPKB menilai Gus Dur telah memenuhi persyaratan untuk ditetapkan sc bagai pahlawan nasional. Gus Dur telah memenuhi persyaratan sesuai dengan Pasal 25 dan Pasal 26 UU No. 20/2009 tentang Gelar, Tanda Jasa dan Tanda Kehormatan.
"Kami menyampaikan usulan tersebut sebagai bentuk tanggungjawab dan penghormatan kepada K.H. Abdurrahman Wahid sekaligus memenuhi tugas untuk mengemban aspirasi rakyat," kata Marwan.Selain PKB. sejumlah anggota dewan secara borgant ian mengusulkan Gus Dur diberi gelar pahlawan. DPR meminta kepada pimpinan DPR untuk segera menjadwalkan prioritas rapat pimpinan DPR yang mengagendakan pengusulan kepada Presiden menyangkut pemberian gelar pahlawan kepada Gus Dur.
"Kami meminta agar dijadwalkan rapat konsultasi tertutup antara pimpinan DPR dan Presiden SBY. Apalagi, Presiden hari ini pun sudah mengeluarkan pernyataan bahwa dia akan segera mengakomodasi hal itu," kata Ketua FPDIP Tjahjo Kumolo dalam sidang paripurna pembukaan masa sidang II DPR/MPR di Gedung DPR/MPR, Jakarta, kemarin.Selain Tjahjo. Nurul Arifin dari FPG menegaskan, Presiden tidak cukup mengatakan bahwa Gus Dur adalah Presiden ke-4 RI, guru bangsa, dan putra terbaik bangsa. "Itu tidak cukup. Gus Dur adalah tokoh pluralisme. Saya ingin ada ketegasan duri pimpinan dewan untuk menyatakan bahwa Gus Dur adalah tokoh pluralisme," kata Nurul Arifin.
Gandung Pardiman dari FPG juga menyatakan hal yang sama. Hanya, selain Gus Dur, Golkar meminta agar Soeharto juga diberi gelar pahlawan. "Kamijuga mengingatkan supaya Soeharto juga diagendakan dengan Gus Dur untuk prioritas pemberian gelar pahlawan," kata Gandung. (A-109/A-130)
Sedikit Dari Yang Saya Kenal Tentang Gus Dur (KH.Abdurrahman Wahid)
Kamis, 31 Desember 2009 13:14 Saya mengenal nama Gus Dur sudah lama, yaitu sejak pertengahan tahun 1970 an. Ketika itu, Gus Dur pulang dari Baghdad, dan karena belum dinyatakan lulus dari belajarnya di Irak, ia mau mengambil kuliah di IAIN Sunan Ampel Surabaya. Oleh karena, Gus Dur tidak memiliki dokumen yang cukup, maka niatnya itu gagal, sesuai dengan peraturan, tidak bisa diterima.

Mendengar bahwa Gus Dur tidak bisa diterima, kuliah tingkat doctoral di IAIN Sunan Ampel Surabaya, maka Pak A.Malik Fadjar, yang waktu itu menjabat sebagai Sekretaris Fakultas Tarbiyah IAIN Sunan Ampel Malang menemuinya. Pak Malik menawarkan agar Gus Dur, meneruskan saja di IAIN Malang. Ketika itu, IAIN Sunan Ampel Malang sudah membuka program doctoral. Namun Pak Malik Fadjar tidak mempersilahkan Gus Dur menjadi mahasiswa doctoral melainkan justru diangkat sebagai pengajar di tingkat doctoral itu.
Atas tawaran Prof. Malik Fadjar, M.Sc, Gus Dur menerima, hanya dia mengakiu tidak punya pangkat sebagai persyaratan sebagai pengajar di tingkat doctoral. Pak Malik kemudian menyanggupi, memberi pangkat Gus Dur, golongan IV/a. Mulai dari sini, KH.Abdurrahman Wahid mengajar di IAIN Malang tingkat doctoral, berstatus sebagai dosen luar biasa selama beberapa tahun. Gus Dur berhenti member kuliah, karena pindah ke Jakarta. Namun secara resmi, Gus Gur belum pernah menyatakan berhenti atau diberhentikan sebagai dosen di IAIN Malang. Pernyataan ini pernah saya sampaikan, tatkala menyambut Gus Dur sebagai Presiden, ketika berkunjung di UIN Maliki Malang.
Sejak itu, Gus Dur memiliki banyak kegiatan di Malang, terutama terkait dengan kegiatan kerukunan umat beragama. Selain ke IAIN Malang, Gus Dur biasanya juga menemui kawannya, di antaranya Romo Yansen, pengajar di STFT Malang. Gus Dur bersama Pak Malik Fadjar sering menyelenggarakan penelitian bersama dengan umat agama lain, seminar, kerjasama social kemasyarakatan sebagai bagian dari kegiatan bersama umat berbagai agama di Malang. Beberapa kegiatannya dilakukan di Paniwen, Sumber Pucung dan beberapa tempat lainnya.
Lewat Pak Malik Fadjar, saya banyak ditugasi untuk mengetik tulisan-tulisan Gus Dur berupa laporan kegiatannya. Selain itu, saya juga ditugasi untuk menyusun beberapa laporan, misalnya membuat monografi kerukunan umat beragama, termasuk juga menyusun abstraks dari beberapa laporan kegiatan sebagai bahan seminar, dan beberapa tulisan lainnya tentang kegiatan kerukunan umat beragama tersebut.

Setelah Gus Dur pindah ke Jakarta dan banyak kegiatannya di LP3ES dan juga di tempat lainnya, saya oleh Pak Malik Fadjar seringkali diajak mengikuti acara-acara penting yang diselenggarakannya. Pada waktu-waktu tertentu, Gus Dur bersama koleganya mengadakan diskusi terbatas, yang diikuti antara lain oleh Pak Dawam Rahardjo, Pak Muchtar Buchori, Pak Muslim Abdurrahman, Pak Djohan Efendi, Pak Utomo, Pak Malik Fadjar dan lain-lain. Ketika itu, saya masih sangat yunior, sehingga peran saya hanya sebatas pendengar, dan jika diperlukan, membantu menulis laporan dan mengetiknya.
Pernah pada suatu ketika, sekitar akhir tahun 1983, diadakan diskusi terbatas, -----kalau tidak salah, mengambil tempat di rumah Pak Muchtar Buchori di Jakarta. Diskusi yang diikuti antara lain oleh beberapa tokoh yang saya sebutkan di muka, membicarakan dua hal penting, yaitu pertama, mendiskusikan rencana-rencana kegiatan Pak Nurcholis Madjid setelah pulang dari Amerika Serikat. Para tokoh tersebut, tidak ingin sepulang dari Amerika, kegiatan Nurcholis Madjid hanya sebatas berceramah dari satu tempat ke tempat lain.
Kedua, adalah berdiskusi tentang bagaimana menyusun scenario agar pada Muktamar NU yang sebentar lagi ketika itu (1984) akan digelar di Asem Bagus, Situbondo, Gus Dur terpilih sebagai ketua umum PB NU. Pada saat itu, para tokoh memandang bahwa untuk memajukan dan mendinamisasikan NU, maka Gus Dur harus didorong sebagai pucuk pimpinannya. Ternyata, muktamar NU di Situbondo, benar–benar berhasil mengangkat cucu pendiri NU yang pernah belajar di Mesir dan juga di Baghdad ini, sebagai Ketua Umum PBNU.
Karena ketika itu, saya masih tergolong sangat yunior dibanding para tokoh tersebut, maka sekalipun memiliki idea atau pandangan, saya tidak berani menyampaikannya. Namun, ketika itu saya merasa agak gelisah, apabila Gus Dur benar-benar berhasil menduduki posisi sebagai Ketua Umum PBNU. Kegelisahan saya itu muncul tatkala membayangkan antara Gus Dur sendiri dengan umat yang akan dipimpinnya. Sekalipun saya tahu, bahwa Gus Dur adalah cucu pendiri NU, akan tetapi saya melihat ada jarak yang sedemikian jauh dengan umat yang akan dipimpinnya.

Dalam pandangan saya, jika Gus Dur menjadi Ketua Umum PBNU, maka saya membayangkan NU akan menjadi bagaikan angsa. Seekor angsa memiliki badan besar, kepala kecil, tetapi lehernya sedemikian panjang. NU akan seperti angsa itu. Maksud saya, jika Gus Dur menjadi ketua PBNU, maka antara Gus Dur yang pikiran-pikirannya sedemikian cemerlang, dinamis, inovatif, sangat luas, dan sedemikian modernnya akan menjadi pimpinan warga NU yang kebanyakan ada di pedesaan. Antara Gus Dur dan warna NU yang tinggal di kabupaten/kota, kecamatan, desa, dan bahkan di pinggiran-pinggiran laut, pulau kecil, dan di pedalaman, akan berjarak yang sedemikian jauh. Saya umpamakan, antara Gus Dur dengan kebanyakan umatnya, bagaikan kepala dengan badan angsa, dipisahkan oleh leher yang sedemikian panjang.

Jika benar-benar dipimpin Gus Dur, NU akan menjadi bagaikan angsa, tidak bisa bergerak cepat, karena badannya terlalu besar, tetapi suara kerasnya terdengar kemana-mana. Apa yang saya gambarkan tersebut, saya lihat kemudian ada benarnya. Pikiran-pikiran Gus Dur tentang agama, politik, ekonomi, social, budaya, pendidikan dan lain-lain selalu berjarak dengan umatnya yang sedemikian besar jumlahnya dan bervariatif itu. Oleh karena itu maka seringkali terjadi, pikiran-pikiran Gus Dur tidak sambung dengan masyarakat bawah yang dipimpinnya. Saya ketika itu berpikir dan berdoa, bagaimana agar antara kepala angsa dan badannya, sebagai gambaran NU, semakin mendekat. Artinya, umat berhasil semakin bisa memahami dan mengikuti pikiran-pikiran cerdas Gus Dur. Selain itu, saya juga berdoa agar kepala angsa juga semakin besar. Artinya, tokoh-tokoh sekaliber Gus Dur di NU semakin banyak.

Tatkala menjabat sebagai Presiden, Gus Dur pernah saya undang ke UIN Maliki Malang. Ketika itu UIN Maliki Malang masih berstatus sebagai sekolah tinggi, yaitu STAIN Malang. Presiden yang sekaligus juga Kyai besar ini, hadir untuk memberikan ceramah, mengenai pandangannya tentang pendidikan Islam di masa depan, dan juga sekaligus meresmikan penggunaan Ma’had al Aly, Sunan Ampel, STAIN Malang. Prasasti peresmian itu, sampai sekarang masih ada di depan Ma’had, dan saya kira, selamanya tidak akan pernah hilang dari tempat itu. Gus Dur akan tetap dikenang oleh warga kampus UIN Maliki Malang, baik sebagai dosen yang belum pernah berhenti, tokoh umat, cendekiawan, dan sebagai Presiden RI yang pertama hadir di kampus UIN Maliki Malang.
Satu hal yang tidak pernah akan saya lupakan dari Gus Dur`, ialah pesan beliau terkait STAIN Malang yang kini telah berubah menjadi UIN Maliki Malang. Pesan itu menyangkut konsep memadukan bentuk lembaga pendidikan Islam, antara ma’had dengan kampus. Konsep itu, oleh Gus Dur dianggap sangat tepat. Sebelum pulang dari meresmikian Ma’had STAIN Malang, Gus Dur singgah di pendopo Kabupaten Malang untuk santap siang. Pada kesempatan santap siang itu, beliau berpesan kepada saya, dengan mengatakan : “ bentuk lembaga pendidikan ingkang panjenengan kembangaken sampun leres. Memadukan antawis tradisi perguruan tinggi lan pesantren, utawi ma’had. Sampun ngantos diubah-ubah, puniko sampun leres, ateges sampun kepanggih bentuk lembaga pendidikan ingkang tepat. Menawi wonten persoalan, kulo saget dikabar, Lan menawi tindak Jakarta, monggo mampir dateng istana. Ketika itu, segera saya jawab, “inggih, insya Allah”, matur nuwun, dalem isthoáken.
Pesan Presiden KH Abdurrahman Wahid yang disampaikan dengan menggunakan Bahasa Jawa kromo------bahasa halus, terkait dengan konsep pendidikan yang menggabungkan antara tradisi pesantren dan kampus itu, tidak pernah saya lupakan. Pesan Gus Dur tersebut juga dikuatkan oleh Ibu Sinta Nuriyah yang ketika itu duduk di sebelah suaminya. Bersama Gus Dur dan Ibu Sinta Nuriyah, Pak Djohan Efendi, Pak Muslim Abdurrahman, dan beberapa pejabat lain, termasuk saya sebagai pimpinan STAIN Malang. Sekalipun Gus Dur sudah wafat, hari Rabu, tanggal 30 Desember 2009 jam 18.45 di Jakarta, saya bertekat mewujudkan pesan-pesan itu, hingga kampus ini ke depan semakin maju dan sempurna. Atas wafatnya Gus Dur kita semua berduka, dan berdoa, semoga Gus Dur ditempatkan oleh Allah swt., pada tempat yang mulia, di sisi-Nya. amien.

Lucunya Gus Dur

assalaamu'alaikum wr. wb.
Seorang penulis pernah bilang bahwa Gus Dur ini memang tidak tanggung-tanggung kontroversialnya. Di satu sisi ia mengedepankan sekularisme, tapi di sisi lain ia habis-habisan menunggangi simbol-simbol keagamaan seperti pesantren, ke-kyai-annya, atau ke-Gus-annya. Di sana-sini ia berteriak agar jangan terlalu mengeksploitasi hukum Islam dalam kehidupan berbangsa yang pluralis, namun ketika ada yang hendak melengserkannya dari kursi kepresidenan, tiba-tiba muncul istilah "fiqih dalam menghadapi makar terhadap pemimpin umat". Tiba-tiba saja ayat-ayat Al-Qur'an digunakan untuk mengecam orang-orang yang hendak menjatuhkan dirinya. Tapi itulah politik.
Belum lama ini, situs resmi Jaringan Islam Liberal (JIL) memuat sebuah wawancara yang dilakukan oleh M. Guntur Romli dan Alif Nurlambang terhadap mantan orang nomor satu di Indonesia itu. Pembicaraan seputar RUU APP yang memicu banyak perdebatan itu. Di dalamnya, lagi-lagi, muncul begitu banyak 'kelucuan' yang sebenarnya sudah menjadi ciri khas seorang Abdurrahman Wahid.
Ketika dimintai komentar tentang Perda Tangerang yang melarang habis pelacuran, Gus Dur melihatnya dari 'sisi lain'. Menurutnya, membuat aturan yang melarang pelacuran bukanlah prioritas utama. Di baliknya, masih ada persoalan ekonomi. Dengan kata lain, jika tidak ada peningkatan taraf kehidupan, maka pelacuran tidak akan bisa dihapuskan.
Barangkali Gus Dur lupa bahwa pelacuran senantiasa ada meskipun di lingkungan orang-orang kaya. Memang gayanya beda, dan pelacur jenis ini tidak mejeng di pinggir jalan, melainkan menunggu telpon di rumah masing-masing. Bayarannya bukan dalam hitungan ratusan ribu rupiah, jutaan rupiah pun ada. Para pelacur ini juga bukan orang miskin, namun kaum perempuan hiperseks yang mau saja dijadikan komoditas bisnis dengan harga yang sangat tinggi. Tidak ada bukti bahwa pelacuran bisa dihapuskan ketika ekonomi rakyat membaik.
Berikutnya, pewawancara meminta pendapat sang Gus tentang kesan 'arabisasi' dalam pelaksanaan RUU APP dan sejumlah perda syariat. Gus Dur membenarkan kesan tersebut dan tidak lupa mempertanyakan sikap 'arabisasi' tersebut.
Pertanyaan usang soal 'arabisasi' ini sebenarnya sudah dijawab dengan sangat jitu oleh Mas Jonru, namun biarlah saya mengulangnya sedikit (dengan redaksi saya sendiri). Anggaplah kita sebagai bangsa Indonesia tidak boleh menerima budaya lain yang akan mencemari kepribadian bangsa kita. Lalu apa sebenarnya yang selama ini terjadi di negeri ini pada era globalisasi? Kalau kita protes pada 'arabisasi', mengapa Gus Dur tidak pernah terdengar memprotes 'westernisasi', bahkan cenderung mendukungnya? Apakah orang Barat lebih baik daripada Arab?
Tapi itu semua berasal dari sebuah asumsi bahwa RUU APP memang benar-benar sebuah proyek 'arabisasi'. Padahal tidak demikian. Memang tidak ada perlunya mencontoh negara-negara Arab, karena mereka sendiri tidak melaksanakan ajaran Islam dengan benar. Negara manakah yang menjalankan ajaran Islam dengan sepenuhnya? Apakah negara kerajaan bisa dianggap telah meneladani kekhalifahan? Jelas tidak! Lagipula RUU APP tidak dibuat berdasarkan standar Islam. Tidak ada kewajiban menggunakan jilbab bagi perempuan di RUU tersebut. Tidak usah sampai begitu. Sesopan Siti Nurhaliza pun sudah cukup, kok! Karena itu, perlu dipertanyakan RUU manakah yang sebenarnya sedang dibicarakan oleh Gus Dur ini?
Untuk melengkapi keanehan itu, Gus Dur kemudian memberikan sebuah 'contoh kasus'. Beginilah katanya : "Semua orang tahu bahwa pesantren itu lembaga Islam, tapi kata pesantren itu sendiri bukan dari Arab kan? Ia berasal dari bahasa Pali, bahasa Tripitaka, dari kitab agama Buddha."
Sepertinya Gus Dur gagal membedakan antara pesantren dengan istilah pesantren itu sendiri. Pesantren memang sebuah lembaga Islam, tapi istilahnya tidak berasal dari ajaran Islam. Pesantren itu sendiri sebenarnya tidak berbeda dengan sebuah sekolah, hanya saja sangat kental diwarnai dengan pengajaran agama Islam. Mengenai istilah yang digunakan untuk melambangkan sekolah yang bernuansa Islami itu sendiri bebas menggunakan bahasa apa pun. Orang Nepal menggunakan bahasa Nepal, orang Meksiko menggunakan bahasanya sendiri, dan orang Brasil tidak mesti menggunakan bahasa Perancis. Kalau orang Indonesia menggunakan bahasa nenek moyangnya dahulu, apa salahnya? Toh penamaan itu tidak mempengaruhi isi ajarannya.
Entah kelepasan atau tidak, Gus Dur kemudian bahkan menegaskan bahwa kita tidak bisa menerapkan syariat Islam jika bertentangan dengan UUD 45. Pertanyaannya, apakah agamanya : Islam atau Indonesia? Siapakah Rasul yang ditaatinya : Muhammad saw. atau para penyusun UUD 45 itu? Mengapa seorang Gus bisa memberi harga yang demikian rendah terhadap agamanya sendiri? Entahlah.
Berikutnya, sang narasumber menegaskan bahwa standar moralitas berubah dari waktu ke waktu dan bisa juga berlainan di masing-masing tempat. Menurutnya, apa yang dianggap tidak senonoh di masa lalu bisa jadi wajar di masa sekarang. Selain itu, apa yang dianggap cabul di suatu tempat bisa jadi hanyalah sebuah tradisi yang wajar bagi yang lainnya.
Pertanyaannya sekarang : jujurkah mereka yang mengatakan bahwa standar moralitas itu telah berubah? Pertama, apa betul mereka tidak merasa terangsang sedikit pun melihat pengumbaran aurat di tempat-tempat umum di masa sekarang ini? Hanya sekedar kata-kata dari lidah tidak bisa menjamin apa-apa. Siapa pun bisa berbohong dengan mengatakan dirinya tidak terangsang agar kaum perempuan tidak ragu lagi untuk menambah rangsangan itu. Seharusnya kita menggunakan lie detector.
Kedua, apa betul standar moralitas berubah? Pornoaksi sudah ada sejak dahulu kala, tidak ada yang berubah. Tari-tari erotis sudah ada sejak dahulu kala. Pelacuran sudah ada sejak jaman para Nabi, dan homoseksualitas juga sudah ada, paling tidak sejak jaman Nabi Luth as. Dan sejak dahulu pula, semua hal tersebut sudah merongrong kehidupan manusia. Jadi, kata siapa standar moralitas telah berubah?
Ketika bicara tentang sastra Islam, lagi-lagi Gus Dur gagal membedakan antara 'sastra Islami' dengan 'sastra yang dibuat oleh sastrawan yang beragama Islam'. Ia menceritakan sebuah novel karangan Naguib Mahfouz yang bercerita tentang pergulatan batin seorang pelacur. Menurut Gus Dur, sastra itu jelas tidak bisa dianggap sebagai sastra non-Islam karena jelas-jelas penulisnya adalah Muslim. Sudah jelas dimana kekeliruannya, bukan?
'Kenakalan' Gus Dur yang paling parah adalah ketika ia menyebut Al-Qur'an sebagai kitab yang paling porno. Begini cetusnya : "Di Alqur’an itu ada ayat tentang menyusui anak dua tahun berturut-turut. Cari dalam Injil kalau ada ayat seperti itu. Namanya menyusui, ya mengeluarkan tetek kan?! Cabul dong ini. Banyaklah contoh lain, ha-ha-ha…"
Pertama, masalah menyusui anak bukanlah perkara cabul. Kalau Al-Qur'an tidak memotivasi kaum ibu untuk menyusui anaknya hingga waktu yang optimal, barangkali generasi muda umat Islam akan berkembang dengan tidak cukup baik. Apakah perkara menyusui anak harus diabaikan lantaran berkaitan dengan organ payudara? Kasihan sekali anak-anak, jika memang demikian. Untung Al-Qur'an tidak ditulis oleh Gus Dur.
Kedua, sebenarnya Gus Dur sendiri yang menyusahkan dirinya dengan definisi cabul yang terlalu jauh. Tidak ada yang mengatakan bahwa seorang ibu yang menyusui anaknya itu telah berbuat cabul. RUU APP pun jelas tidak melarang ibu mana pun untuk menyusui anaknya. Bahkan hanya orang gila yang akan melarang peristiwa alamiah yang amat bermanfaat bagi bayi, baik dari segi medis maupun psikis tersebut.
Ketiga, apa yang Gus Dur maksud dengan Injil? Apakah ia pernah melihat Injil yang masih asli? Umat Islam pasti beriman pada Injil, hanya saja kita tidak pernah lagi menemukan Injil yang asli. Injil yang benar pasti sejalan dengan Al-Qur'an. Kalau yang dimaksud adalah Bibel (Kitab Suci yang digunakan oleh umat Kristiani sekarang), maka kita tidak boleh menyebutnya sebagai Injil, karena Al-Qur'an dan Al-Hadits telah menegaskan bahwa umat Nasrani telah mengubah-ubah Injil menurut kehendaknya sendiri.
Keempat, anggaplah kita menerima istilah 'Injil' untuk Kitab Suci umat Kristiani jaman sekarang. Apakah di sana tidak ada ayat-ayat yang berbau cabul? Saya rasa Gus Dur harus diperkenalkan pada sebuah masterpiece karya seorang ulama besar yang bernama Ahmad Deedat (semoga Allah SWT ridha kepadanya). Cukuplah buku The Choice sebagai referensi atas 'keanehan-keanehan' (termasuk ayat-ayat porno) di dalam 'Injil' tersebut.
Berikutnya, Gus Dur mengulang sebuah pernyataan klise tentang 'dipojokkannya' kaum perempuan dalam masalah moralitas bangsa. Menurutnya, perempuan tidak perlu 'dipersalahkan' dan 'dituduh' sebagai oknum yang menyebabkan munculnya rangsangan bagi kaum laki-laki. Laki-lakilah yang salah karena seringkali menganggap perempuan sebagai objek seksual.
Gus Dur lupa bahwa standar aurat untuk lelaki dan perempuan itu berbeda. Kalau kita menggunakan standar itu, maka jelaslah bahwa populasi laki-laki dewasa yang menutup aurat lebih banyak daripada populasi perempuan yang menutup aurat. Kalau Gus Dur tidak merasa terangsang, baguslah! Tapi tidak semua orang seperti itu. Aturan menutup aurat diberlakukan untuk menjaga ketertiban, bukan mendiskreditkan perempuan.
Lalu muncullah sebuah klise yang lain : Tuhan tidak perlu dibela! Benar sekali, Tuhan tidak butuh dibela, bahkan Dia tidak membutuhkan apa-apa dari siapa pun. Seluruh umat manusia kafir atau beriman tidak akan memberikan untung atau rugi pada-Nya. Itulah kenyataanya. Akan tetapi, manusialah yang perlu melakukan 'pembelaan' itu. Kalau kita diam saja ketika Tuhan dihina, maka kita harus khawatir di akhirat nanti kita dimasukkan ke dalam kelompok orang-orang yang komitmennya terhadap agama lemah.
Gus Dur juga menganggap bahwa inti ajaran kejawen itu sama dengan Islam. Pernyataan ini tidak ilmiah karena tidak mengandung bukti apa pun. Lagi pula, kesamaan inti ajaran saja belum bisa memenuhi syarat di hadapan Allah. Kalau Allah telah menetapkan syariat yang diridhai-Nya, lalu bagaimana? Apakah kita masih merasa bebas menjalankan agama dengan selera kita masing-masing? Apakah ketetapan Allah bisa diubah dengan kesepakatan manusia? Betapa lemahnya Allah di mata Anda, Gus!
Melihat betapa lucunya tokoh yang satu ini, kita bisa meramalkan bahwa JIL masih akan menjadikannya sebagai narasumber di masa depan. Sebagaimana Gus Dur, JIL pun penuh dengan dagelan. Karena itu, tidak usah ditanggapi dengan terlalu serius. Santai dan tertawa sajalah. Tapi jangan lupa di-counter ya...
wassalaamu'alaikum wr. wb.